Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364736{main}( ).../news-detail.php:0
Optimalisasi Uji Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Optimalisasi Uji Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Wednesday, 20 April 2022

Apakah Anda masih mengalami kendala dalam melakukan uji BOD dan COD?

Dalam pengolahan air limbah, parameter Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB) dan Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) termasuk parameter wajib yang harus dipantau sebelum air limbah dibuang ke lingkungan. Dalam proses analisa, seringkali nilai BOD dan COD terpantau naik. Mengapa? Alasan yang memungkinkan terjadinya hal ini adalah jangka waktu analisa maupun treatment dari tahapan pengambilan sampel yang kurang tepat. Lalu apa yang harus dilakukan dan disiapkan agar pengujian COD dan BOD dapat berlangsung secara optimal? Artikel ini akan membahas uji COD dan BOD dari preparasi, pengujian, faktor - faktor yang dapat mempengaruhi pengujian, kendala serta rekomendasi solusi yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan uji COD dan BOD pada air limbah.

Dalam Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2014 disebutkan bahwa nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB) dan Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) wajib dibawah batas maksimum yang tertera pada baku mutu. Jika nilai COD dan BOD diatas dari ambang batas, maka kerusakan lingkungan dapat terjadi akibat adanya persaingan kebutuhan oksigen antara makhluk hidup akuatik dan kebutuhan untuk mengoksidasi partikel organik dalam air tersebut. Di sisi lain, besarnya nilai COD dan BOD dapat berdampak pada nilai total suspended solid (TSS) atau total padatan tersuspensi dimana hubungan dari ketiganya berbanding lurus. Semakin tinggi nilai COD maka akan semakin tinggi nilai BOD yang berakibat semakin tinggi juga nilai TSS. Semakin tinggi nilai TSS akan mengakibatkan permukaan air tertutup oleh partikel organik yang dapat mengubah warna air bahkan menghalangi masuknya cahaya matahari sehingga fotosintesis tumbuhan air ataupun mikroorganisme air dapat terganggu, dimana akibat dari serangkaian proses ini adalah kerusakan lingkungan.
 

A. Uji Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK)

Secara teori, parameter COD dapat diuji dengan cara titrimetri maupun spektrofotometri. Kedua metode ini telah tercantum dalam American Public Health Association (APHA) Nomor 5220 dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 6989 Bagian 2 Tahun 2009 dan Tahun 2019. Kedua metode ini dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
 

1. Metode Titrimetri

Prinsipnya adalah dengan mereduksi ion dikromat (Cr2O72-) sehingga menghasilkan ion Cr3+ dan menitar kelebihan ion dikromat yang tidak tereduksi dengan larutan Ferro Ammonium Sulfat (FAS) dengan adanya indikator ferroin. Metode ini dilakukan dengan tahapan refluks selama 120 menit (2 jam) pada suhu 150 oC yang dapat dilakukan secara terbuka ataupun tertutup dan dilanjutkan dengan tahap titrasi. Nilai Chemical Oxygen Demand (COD) kemudian dapat dihitung dengan rumus berikut :

 

2. Metode Spektrofotometri

Metode ini dilakukan dengan mengukur nilai COD pada sampel hasil destruksi dengan menggunakan alat spektrofotometer. Namun pada metode spektrofotometri, refluks yang bisa dilakukan hanyalah metode refluks tertutup pada suhu 150 oC selama 120 menit (2 jam). Reagen yang digunakan pada tahap refluks ini adalah kalium dikromat dalam suasana asam. Reaksi yang terjadi pada tahap refluksi yakni reduksi ion dikromat menjadi ion kromat akibat adanya partikel organik dalam sampel.

Sampel hasil refluks kemudian diuji dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm atau 600 nm. Panjang gelombang 420 nm digunakan untuk nilai COD sampel yang lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L, sedangkan panjang gelombang 600 nm digunakan untuk nilai COD sampel dalam range 100 - 900 mg/L.

 

Jika ditemukan error pada uji COD, hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti masa penyimpanan sampel, treatment pada sampel, pemilihan reagen, dan alat spektrofotometer yang digunakan. Berikut contoh kasus dan solusi yang dapat direkomendasikan :

Kasus 1 : Warna dan hasil nilai COD yang tidak sesuai atau bahkan error

Penjelasan :

Umumnya, hal ini terjadi pada alat spektrofotometer yang telah dilengkapi dengan program analisa COD. Jika nilai COD sampel ternyata tidak sesuai dengan range yang dipilih, maka pesan error pada alat akan muncul. Dalam pengukuran COD, penting halnya untuk mengetahui estimasi nilai dari sampel yang diuji. Dari penampakan, sampel yang cenderung lebih keruh atau pekat dapat diperkirakan memiliki nilai COD yang tinggi dan begitupun sebaliknya. Hal ini akan berdampak pada panjang gelombang maksimum yang perlu digunakan dalam analisa dimana hal ini dikarenakan oleh jumlah ion dikromat yang terpakai dalam reaksi. Umumnya, sampel yang memiliki nilai COD cenderung kecil akan menghasilkan warna kehijauan setelah proses destruksi dalam reaktor COD, sedangkan sampel nilai COD yang cenderung besar akan menghasilkan warna jingga (orange) setelah destruksi.

 

Rekomendasi :

Penting untuk memperhatikan pilihan metode atau jumlah reagen yang perlu digunakan dengan mengetahui nilai estimasi COD sampel yang hendak dianalisa. 

 

Kasus 2 : Jika kadar ion klorida (chloride) pada sampel tinggi

Penjelasan :

Dalam kasus pengujian COD, ion klorida (chloride) dapat mengganggu karena ion klorida dapat ikut teroksidasi dengan tereduksinya ion dikromat (Cr2O72-) sehingga kadar ion dikromat yang tersisa ataupun yang terpakai tidak sepenuhnya digunakan untuk mengoksidasi partikel organik sehingga ion klorida harus ditangani dengan baik.

 

Rekomendasi : 

Penambahan merkuri sulfat (HgSO4) dapat dilakukan untuk mengikat ion klorida sehingga tidak mengganggu analisa COD. Dalam suatu metode yang menggunakan reagen khusus COD, penambahan 0,5 gram merkuri sulfat dapat dilakukan pada setiap vial sebelum penambahan sampel. Namun, beberapa reagen khusus COD biasanya sudah mengandung merkuri sulfat untuk menanggulangi adanya ion klorida pada kadar tertentu.

 

Kasus 3 : Hasil nilai COD sampel yang terlampau rendah atau terlampau tinggi.

Penjelasan :

Ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi terjadinya hal ini, seperti masa simpan dan treatment pada sampel, instrumentasi, reagen yang digunakan, dan kondisi lingkungan. Adapun penjelasan terkait beberapa faktor ini dirangkum sebagai berikut :.

1. Masa simpan dan treatment sampel

Dalam American Public Health Association (APHA) 5220A disebutkan bahwa sampel COD harus segera dianalisa setelah pengumpulan sampel. Jika sampel tidak segera dianalisa, dikhawatirkan hasil nilai COD sampel yang didapatkan kurang akurat. 

 

Rekomendasi :

Jika harus menunda analisa sampel, maka disarankan untuk mengkondisikan sampel pada pH kurang dari 2 dengan menambahkan asam sulfat (H2SO4) dan disimpan pada suhu 2 – 6 °C. 

 

2. Instrumentasi

Dalam hal ini, instrument memang memegang peran penting sehingga penggunaan serta perawatannya perlu dipantau. Dalam International Organization of Standardization (ISO) 17025 tahun 2017, disebutkan bahwa instumen analisa wajib untuk dikalibrasi sesuai dengan regulasi yang berlaku dan mempertimbangkan kondisi alat, umur alat, intensitas pemakaian dan lainnya. Hal ini karena semakin lama umur suatu alat, kemungkinan performa alat juga akan semakin menurun, tidak terkecuali untuk alat spektrofotometer. Selain performa, kemungkinan alat sudah membutuhkan perawatan seperti pembersihan filter, penggantian lampu ataupun perawatan lainnya karena seringkali filter yang kotor mempengaruhi hasil analisa yang didapat.

 

Rekomendasi : 

Perlu dilakukannya pemantauan terhadap uji fungsi alat. Kalibrasi dapat dilakukan minimal 1 tahun (12 bulan) sekali atau sesuai kebutuhan yang ditinjau dari kondisi alat, umur alat dan intensitas pemakaian alat. 

 

3. Reagen yang digunakan

Kualitas reagen memang menjadi faktor penting dalam pengujian apapun. Oleh karena itu, menjaga kualitas reagen agar tetap dalam kualitas terbaik adalah solusi paling strategis.

 

Rekomendasi :

Operator dianjurkan untuk memperhatikan tanggal kadaluarsa reagen dan petunjuk penyimpanan reagen yang tertulis pada label reagen. Jika pada label reagen tidak tertulis tentang petunjuk penyimpanan, maka operator atau analis dapat menanyakan cara penyimpanan reagen ke supplier terkait.

 

4. Kondisi Lingkungan

Suhu dan kelembaban lingkungan sekitar juga terkadang memberikan dampak terhadap hasil treatment limbah sehingga mempengaruhi karakteristik air limbah. Dalam studi yang dilakukan oleh Mines dkk, (2007) menyatakan bahwa cuaca dengan curah hujan tinggi berdampak pada tingginya nilai COD dan BOD pada air limbah.

 

Rekomendasi :

Melakukan pemantauan terhadap cuaca, debit dan keseluruhan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar nilai COD masih dalam interval baku mutu yang ditentukan.

 

Jika terjadi penyimpangan nilai COD pada sampel, analis disarankan untuk melakukan validasi dan verifikasi terhadap metode yang digunakan dengan menggunakan larutan standar yang telah diketahui nilai serta ketidakpastiannya. Hal ini untuk melakukan tracking terhadap masalah yang dihadapi. Sebagai tambahan referensi, analis dapat menggunakan reaktor khusus CODreagen khusus COD dan spektrofotometer yang telah dibekali program khusus untuk analisa COD agar mempermudah tracking ketika terjadi penyimpanan hasil. Tampilan dari reagen dan alat - alat analisa COD dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Tampilan Alat dan reagen untuk analisa COD (a) Reaktor COD (b) Reagen khusus COD (c) Alat Spektrofotometer

 

B. Uji Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan Oksigen Biologi (KOB)

Sesuai dengan American Public Health Association (APHA) Nomor 5210 yang menjelaskan bahwa terdapat 3 cara untuk melakukan pengujian BOD, yakni menggunakan metode titrasi, metode dilusi, dan metode respirometrik. Perbedaan antara ketiga metode ini terdapat pada prinsip dan cara pengujiannya, meskipun ketiganya sama sama melakukan pengukuran terhadap kadar oksigen diawal dan diakhir masa inkubasi dalam kondisi suhu 20 oC . Masa inkubasi pengujian BOD pun beragam tergantung pada tujuan yang ditargetkan. Pengujian BOD dapat dilakukan selama 5 hari (BOD5), 7 hari (BOD7), 10 hari (BOD10) atau 21 hari (BODu),  yang mana BOD5 adalah pengujian BOD yang paling umum dilakukan.
 

1.  Metode Titrasi

Meski jarang dilakukan, namun pengujian BOD dapat dilakukan dengan menggunakan metode winkler yakni melalui titrasi iodometri. Secara prinsip titrasi iodometri merupakan titrasi reduksi-oksidasi (redoks) yang menggunakan Mangan klorida (MnCl2), Larutan kalium iodida dalam natrium hidroksida (NaOH-KI), asam sulfat (H2SO4), dan natrium tiosulfat (NaS2O3). Prinsipnya adalah dengan menambahkan sampel dengan mangan klorida dan larutan kalium iodida dalam natrium hidroksida yang kemudian dikondisikan pada keadaan asam dengan penambahan asam sulfat sehingga ion iodida pada vessel titrat berubah menjadi iodin yang ekivalen dengan kadar oksigen terlarut. Vessel titrat kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat dengan menggunakan indikator kanji.

Umumnya, pengujian titrimetri menggunakan rangkaian alat gelas seperti buret dan statif, labu erlenmeyer. Uji ini mungkin membutuhkan biaya yang relatif sedikit karena tidak menggunakan instrument tertentu, tetapi pengujian secara titrimetri lebih beresiko terhadap hasil analisa maupun terhadap analis. Hal ini karena penggunaan buret masih bersifat subjektif dan adanya faktor human error seperti kesalahan paralaks dapat memicu hasil yang kurang efektif dan tidak efisien.
 

2. Metode Dilusi dengan Probe

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 6989 bagian 72 Tahun 2009, pengukuran BOD dapat dilakukan dengan menggunakan DO meter, yakni dengan membandingkan kadar oksigen sebelum dan setelah masa inkubasi. Nilai BOD kemudian dihitung dengan menggunakan rumus :
 
 
Dalam hal ini, pengujian BOD dengan menggunakan DO meter sangat berguna apalagi jika jumlah sampel yang dianalisa terlampau banyak. DO meter merupakan rangkaian alat yang terdiri dari elektroda Dissolved Oxygen (DO) dan meter pembaca. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa tipe elektroda DO, yakni elektroda DO tipe polarographic, elektroda DO tipe luminescene, dan elektroda DO yang dilengkapi dengan fitur stirrer. Ketiga tipe elektroda DO ini ditunjukkan pada Gambar 2.
 
Gambar 2. Contoh Tampilan Alat DO meter dengan Elektroda (a) Polarographic (b) Dilengkapi Stirrer (c) Teknologi Luminescene
 

3. Metode Respirometrik

Metode ini tercantum dalam metode standar American Public Health Association (APHA) 5210D yang memanfaatkan proses respirasi bakteri aerob dengan mengestimasikan pada hari 0 (nol) nilai BOD adalah 0 mg/L. Secara teori, pada hari 0 bakteri belum melakukan proses respirasi dan ketika respirasi bakteri terjadi, nilai oksigen pada botol uji akan perlahan menurun dengan meningkatnya volume gas karbon dioksida (CO2), namun gas ini tidak akan mengganggu proses karena akan ditangkap oleh padatan Alkali hiroksida seperti natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH) ataupun Lithium Hidroksida (LiOH). Serangkaian reaksi dari proses ini diilustrasikan pada Gambar 3.
 Gambar 3. Ilustrasi Uji BOD dengan Metode Respirometrik
 
 
Sedikit berbeda dengan metode dilusi dengan probe, metode respirometrik menggunakan alat berupa sensor yang dapat membaca tekanan gas yang terdapat dalam botol uji selama analisa berlangsung. Alat pun dilengkapi dengan stirrer sehingga membantu mengoptimalkan uji BOD yang dilakukan. Adapun contoh tampilan Alat BOD Respirometrik ini ditunjukkan pada Gambar 4.
 
Gambar 4. Contoh Tampilan Alat BOD Respirometrik
 
 
 

Faktor yang Mempengaruhi Uji Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi uji BOD pun beragam, dari mulai kondisi pH, keberadaan zat klorin dan turunannya, ozon, dan logam berat. Adapun syarat kondisi yang harus dipenuhi dalam pengujian BOD adalah sebagai berikut :

  1. Nilai pH sampel berkisar pada 6,5 - 7,5

  2. Memiliki nutrisi dan bakteri yang cukup

  3. Tidak mengandung zat- zat toksik yang dapat mematikan bakteri seperti  klorin dan turunannya, ozon, dan logam berat.

  4. Sistem yang baik (tidak bocor)

  5. Jika pengujian dilakukan kebih dari 5 hari, maka sampel tidak boleh mengandung bakteri nitrifikasi.

Poin - poin penting yang telah disebutkan diatas dapat disederhanakan menjadi suatu grafik yang ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Kurva Pengujian BOD

 

 

Cara Mengoptimalkan dan Mengefisienkan Uji BOD

Dalam hal ini penggunaan reagen seperti larutan nutrisi, benih bakteri serta reagen lainnya yang digunakan untuk melakukan pre-treatment dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi dari uji BOD, baik dalam segi waktu maupun biaya (cost). Berikut adalah beberapa rekomendasi yang dapat kami sarankan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas uji BOD :
 
A. Penggunaan Larutan Nutrisi
 
Dalam American Public Health Association (APHA) disebutkan bahwa larutan nutrisi terdiri dari beberapa reagen kimia seperti kalsium klorida (CaCl2), magnesium sulfat (MgSO4), Besi (III) klorida (FeCl3), dan larutan buffer phosphate. Namun preparasi keseluruhan larutan – larutan tersebut akan memakan waktu dari mulai penimbangan hingga pelarutan, selain itu preparasi setiap larutan dilakukan dalam jumlah 1 L. Hal ini tentulah kurang efisien jika dilihat dari segi waktu maupuncost dalam tiap pengujian, sehingga alternatif lainnya adalah dengan menggunakan nutrient pack seperti nutrient buffer pillow.
 
 
B. Penggunaan Larutan Benih Bakteri
 
Terdapat 3 cara untuk membuat larutan suspensi benih bakteri yang dapat digunakan untuk uji BOD yaitu cara pertama dengan mengambil supernatan dari sumber bibit mikroba limbah domestik), cara kedua berdasarkan OECD guideline for testing of chemicals, 301 – 1992 ready biodegradability, atau dengan menggunakan suspensi bibit bakteri berupa BOD seed. Dalam hal ini, penggunaan BOD seed sangatlah efisien karena tidak memakan waktu terlalu lama seperti cara lainnya, serta peralatan yang diperlukan hanyalah magnetic stirrer, aerator dan gelas kimia berisikan air dilusi.
 
 
C. Pemilihan Tipe Air 
Kriteria air yang harus digunakan untuk analisa BOD telah tercantum dalam American Public Health Association (APHA) nomor 5210 dengan ketentuan bersyarat bahwa air tidak mengandung ion logam khususnya logam tembaga ataupun zat - zat toksik yang dapat mengganggu analisa BOD. Dalam hal ini, air destilasi (distilled water) lebih direkomendasikan daripada air deionisasi (deionized water) karena seringkali air deionisasi masih mengandung partikel organik dan mikroorganisme yang dapat menyebabkan terganggunya analisa. Oleh karena itu, pemeriksaan air perlu dilakukan secara berkala dan tidak direkomendasikan untuk menyimpan air dilusi selama lebih dari 24 jam setelah penambahan nutrien, mineral, dan buffer, kecuali jika blanko air dilusi memiliki limit kontrol kualitas yang konsisten. Dalam hal ini, penggunaan instrumen water purifier dapat memudahkan analis dalam mengontrol kualitas air yang hendak digunakan untuk analisa. 
 
 
D. Pemilihan Alat
Dalam hal ini, jika pengujian hendak menggunakan metode dilusi dengan probe, maka disarankan untuk memilih probe yang dilengkapi dengan teknologi luminescene atau yang dilengkapi dengan stirrer. Hal ini tentunya akan mempermudah dan mengoptimalkan pengujian BOD yang dilakukan. Hal ini karena pembacaan yang jauh lebih cepat dibandingkan elektroda DO polarographic serta tidak ada perlakuan khusus yang harus diberikan pada elektroda sebelum digunakan. Selain itu, perawatan rutin yang perlu dilakukan hanya dengan mengganti membran secara rutin saja untuk elektroda DO luminescene
 
Untuk alat BOD respirometrik, dapat menggunakan sistem dengan 6 posisi atau 10 posisi yang dilengkapi dengan stirrer dan display digital yang dapat menampilkan nilai hasil pengukuran BOD dalam satuan mg/L BOD.
 
Sedangkan untuk alat inkubator, disarankan untuk memilih inkubator khusus BOD yang dilengkapi dengan teknologi pendingin berupa elemen Peltier. Hal ini karena elemen peltier bersifat hemat energi dan tidak bising, serta dapat mendistribusikan suhu lebih cepat dan merata dibandingkan inkubator sejenisnya yang menggunakan kompresor.
 
Gambar 6. Contoh Tampilan Inkubator Khusus BOD
 
 

Dari penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat dimodifikasi untuk mengoptimalkan analisa COD (Chemical Oxygen Demand) dan BOD (Biochemical Oxygen Demand). Dalam kasus COD, penambahan reagen merkuri sulfat (HgSO4) , pemberian perlakuan (treatment) sebelum masa simpan sampel serta penggunaan reagen khusus dan alat spektrofotometer khusus yang dilengkapi dengan fitur pengujian COD dimungkinkan dapat mengoptimalkan analisa COD yang dilakukan. Dalam analisa BOD, upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan serta mengefisienkan analisa adalah dengan memperhatikan faktor - faktor yang dapat mempengaruhi uji BOD. Faktor - faktor ini antara lain adalah jumlah nutrien, pH sampel, bakteri pada sampel, serta tipe air yang digunakan, instrumentasi yang digunakan. Dalam beberapa kasus perlu juga dilakukan pemantauan cuaca serta sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah untuk kasus keduanya.

 

Referensi :

American Public Health Association (APHA). Standard Method 5210 : “Biochemical Oxygen Demand”

American Public Health Association (APHA). Standard Method 5220 : “Chemical Oxygen Demand”

Arslan, Saral dan Bülent Ilhan Goncaloğlu. 2008. Determination of Real COD in Highly Concentrated Wastewater, https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/clen.200800073#:~:text=Chloride%20ions%2C%20which%20may%20be,using%20mercuric%20sulfate%20(HgSO4) diakses pada Hari Selasa Tanggal 19 April 2022 Pukul 13.35

Badan Standardisasi Nasional. 2019. Standar Nasional Indonesia Nomor 6989 tentang “Air dan Air Limbah - Bagian 2 : Cara Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand/ COD)” 

Badan Standardisasi Nasional. 2009. Standar Nasional Indonesia Nomor 6989 tentang “Air dan Air Limbah - Bagian 72 : cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand/ BOD)” 

Hach. 2022. Chemical Oxygen Demand, https://sea.hach.com/parameters/cod?_bt=520707712696&_bk=cod%20oxygen%20demand&_bm=b&_bn=g&_bt=520707712696&_bk=cod%20oxygen%20demand&_bm=b&_bn=g&utm_id=go_cmp-13050126186_adg-118927001421_ad-520707712696_aud-830782129328:kwd-386122717113_dev-c_ext-_prd-&utm_source=google&gclid=Cj0KCQjwmPSSBhCNARIsAH3cYgZQfwpwfbGQ7XCirB78pJ4xJ00PAjD1ZlwRSfMoBkZxX6PGBBn1bo0aAoShEALw_wcB diakses pada Hari Selasa Tanggal 19 April 2022 Pukul 13.54

Kementerian Lingkungan Hidup. 2014. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang “Baku Mutu Air Limbah”

Mines, Richard. O, dkk. 2007. The Impact Of Rainfall On Flows and Loadings at Georgia’s Wastewater Treatment Plants, https://gwri.gatech.edu/sites/default/files/files/docs/2007/4.2.3.pdf diakses pada Hari Rabu Tanggal 20 April 2022 Pukul 21.30

Velp Scientifica. 2019. BOD test with Control Test Tablets : Biochemical Oxygen Demand according to Respirometric Method. Italy: Velp Scientifica

 
 

 

 

Previous Article

Uji Angka Lempeng Total pada Produk Kosmetik

Tuesday, 12 April 2022
VIEW DETAILS

Next Article

Titrasi Manual vs Titrasi Otomatis

Friday, 22 April 2022
VIEW DETAILS