Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364080{main}( ).../news-detail.php:0
Uji Mikrobiologi pada Pakan

Uji Mikrobiologi pada Pakan

Thursday, 09 June 2022

Pada pengujian kualitas produk, uji mikrobiologi adalah analisa yang wajib untuk dilakukan, tidak terkecuali untuk produk pakan. Hal ini karena produsen ternak ataupun pembudidaya perlu memastikan kualitas pakan ternak yang digunakan agar hewan - hewan yang diternak ataupun dibudidayakan sehat, memiliki tubuh yang optimal dan terhindar dari penyakit akibat keberadaannya patogen. Beberapa patogen yang biasanya menjangkiti produk pakan yakni Salmonella, Listeria monocytogenes, dan patogen E.coli. Dalam pengujiannya, ketiga jenis mikroorganisme ini harus diinkubasi di dalam inkubator yang direkomendasikan oleh International Organization of Standardization (ISO) 7218 Tahun 2007. Namun, kontaminasi ataupun kontaminasi silang seringkali menjadi pertimbangan terhadap penggunaan alat inkubator. Artikel ini akan membahas cara pengujian mikrobiologi serta cara memilih dan cara merawat alat inkubator untuk hasil pengujian mikrobiologi yang optimal. 

Bahan ataupun produk pakan haruslah mengandung nutrisi yang seimbang seperti protein, lemak, mineral, dan serat. Tetapi perlu dipastikan juga bahwa bahan ataupun produk pakan jadi tersebut telah bebas dari patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan terkait. Dalam studi yang dilakukan oleh Suwito (2010) dilakukan monitoring terhadap 38 sampel bahan pakan dengan cara isolasi dan identifikasi berdasarkan reaksi biokimia. Hasilnya, bahan pakan yang berasal dari ikan dan tulang lebih mudah terkontaminasi oleh bakteri Salmonella sp dan E.Coli dibandingkan bahan pakan yang terbuat dari jagung. Studi lainnya juga dilakukan pada bahan pakan yang berasal dari proses olahan limbah pabrik pakan. Studi ini dilakukan oleh Hakim dkk (2014) yang menyimpulkan meskipun limbah pabrik pakan didaur ulang dan ditambahkan dengan zat starfung, bakteri Salmonella tidak hilang. Dalam studi ini membuktikan bahwa melakukan kontrol terhadap Salmonella merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pelaku industri pakan.

Menurut Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), terdapat 5 titik kritis penting dalam proses pakan, yakni bagian atas tempat penampung produk akhir pakan (top of bin for final feed), Ruang pendingin pellet (room for pellet coolers), bagian atas ruang pendingin pellet (top of peller coolers), debu dari sistem udara (dust from the aspiration system /filter), dan jalur masuk atau bagian bawah elevator pengangkut bahan pakan (intake pit/bottom part of elevator for feed materials). Jika Salmonella ditemukan selama proses produksi pakan, maka sistem operasi harus dihentikan sementara dan operator diwajibkan untuk melakukan pembersihan dan desinfeksi terhadap peralatan yang terkontaminasi. 

 

Kontrol Mikrobiologi dan Cara Pengujiannya

Mengapa keberadaan mikroorganisme perlu dipantau (monitoring) dan dikontrol?
 
Pakan adalah material yang secara tidak langsung berhubungan dengan manusia, hal ini karena industri peternakan memasok bahan pangan untuk manusia, baik dalam bentuk daging hewan, telur, susu ataupun hasil lainnya. Dalam beberapa studi, disebutkan bahwa Salmonella sp dan E.coli dapat menyebabkan masalah pada sistem pencernaan hewan maupun manusia. Alasan utama mengapa  diperlukan kontrol mikroorganisme adalah agar dihasilkan produk pakan yang berkualitas dan higenis, terutama bebas dari Salmonella. Diungkapkan oleh Dr. Frank Jones bahwa Salmonella memiliki ketahanan yang tinggi (persistence) serta bersifat adaptif, sehingga kontrol khusus diperlukan untuk mengupayakan agar produk pakan bebas dari Salmonella.
 

A. Cara Pengujian Cemaran Mikroorganisme

Mengacu pada metode standar Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 29897 Tahun 1992 dan tahun 2008, beberapa metode dapat digunakan untuk memantau keberadaan dan jumlah koloni mikroorganisme patogen. seperti total plate count (TPC), angka paling mungkin (APM), dan penentuan Salmonella. Ketiganya memiliki tujuan yang berbeda dimana TPC berprinsip pada perhitungan koloni bakteri yang teramati pada media agar, sedangkan APM ditujukan untuk bakteri coliform (E.coli) yang didasarkan pada hasil pengujian positif pada tabung yang diberikan media cair melalui uji penduga (presumtif)  dan uji konfirmasi (peneguhan). 
Berbeda dari total plate count (TPC) dan angka paling mungkin (APM), pengujian salmonella dilakukan dengan menggunakan media selektif seperti Selenite F Broth (SFB), Salmonella Shigella Agar (SSA), ataupun Brilliant Green Agar (BGA) sebagai media selektif guna mengisolasi Salmonella. Dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 2897 Tahun 1992, disebutkan cara pengujian ketiga metode ini dan dirangkum pada Tabel 1. 
 
Tabel 1. Rangkuman Metode Pengujian Mikrobiologi
 
 

B. Kontrol Mikroorganisme

 
Sebagai tindakan pencegahan terkontaminasinya bahan maupun produk pakan, analis perlu melakukan kontrol terhadap jumlah mikroorganisme. Dalam beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI), disebutkan baku mutu keberadaan mikroorganisme dalam bahan pakan yang dirangkum pada Tabel 2.
 
Tabel 2. Baku Mutu Beberapa Bahan Pakan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI)
 
 
Untuk mengontrol jumlah mikroorganisme, beberapa zat kimia ditambahkan dimana zat yang umumnya dipakai adalah asam organik seperti formaldehida. Dalam studi yang dikaji oleh Gosling.dkk (2021), penambahan zat - zat seperti campuran dari fitokimia dan asam karboksilat, campuran asam organik dan garam ammonium, campuran asam format-garam-asam laktat, dan lainnya, dimana keberadaan bakteri Salmonella dan E.Coli dapat ditekan jumlahnya. Namun, satu-satunya zat organik yang pemakaiannya diperbolehkan oleh Food and Drugs Administration (FDA) untuk mengontrol keberadaan mikroba, termasuk Salmonella adalah formaldehida. 
Selain pemberian zat kimia, tindakan sterilisasi pun perlu dilakukan. Dalam artikel yang ditulis oleh Dr. Frank Jones, program kontrol Salmonella dapat dijalankan untuk menjaga kualitas pakan agar terbebas dari Salmonella yang meliputi penghalusan permukaan pakan hingga ukuran ≤ 700 mikron, kondisi kelembaban total ≥ 15%, menggunakan sistem uap yang tinggi (>80%), pemanasan dengan suhu 180-185°C selama minimal 30 detik, dan mencegah adanya rekontaminasi dengan monitoring secara berkala.
 

Pemilihan Alat Inkubator

 
Dari Tabel 1, dapat disimpulkan meski metode pengujian mikrobiologi ini berbeda-beda, tetapi seluruh proses pengujian melibatkan lemari pengeram (inkubator/ incubator). Pada prinsipnya, inkubator bekerja dengan cara menjaga kondisi suhu, tingkat kelembaban serta kondisi lainnya seperti kadar gas dalam chamber analisa agar tetap konstan dan stabil sehingga mikroorganisme yang dikembangbiakkan didalamnya dapat tumbuh dengan optimal dalam lingkungan yang baik tanpa adanya kontaminasi dari luar. Oleh karena itu, pemilihan inkubator yang tepat secara tidak langsung mempengaruhi proses efisiensi dan optimalisasi pengujian mikrobiologi. Adapun tips yang dapat direkomendasikan untuk memilih alat inkubator dirangkum pada Tabel 3.
 
Tabel 3. Tips Memilih Inkubator untuk Uji Mikrobiologi
 
 

Berdasarkan Tabel 3, analis dapat memilih inkubator yang sesuai dengan kebutuhan dimana tipe-tipe inkubator yang dapat dipilih yaitu inkubator dengan natural air, inkubator dengan kipas (fan), inkubator dengan elemen pendingin peltier atau kompresor (compressor), atau inkubator yang dilengkapi dengan module gas supply.

 

Lalu, Maintenance apa yang perlu dilakukan?

Setelah memilih inkubator yang tepat, analis tentunya perlu menjaga dan merawat inkubator se-optimal mungkin agar alat dapat beroperasi secara optimal dalam jangka waktu yang ditetapkan. Oleh karena itu, perawatan perlu dilakukan agar terealisasinya ekspektasi ini. Berikut hal- hal yang harus diperhatikan untuk merawat inkubator :

  1. Membersihkan permukaan inkubator agar terhindar dari debu yang dapat menyebabkan kontaminasi pada sampel. Cara pembersihan ini dapat dilakukan dengan mengikuti instruksi yang disarankan pada buku manual alat terkait.

  2. Memperhatikan suhu dan kelembaban kondisi ruangan yang digunakan untuk meletakkan alat inkubator. Dalam hal ini monitoring suhu perlu dilakukan oleh analis.

  3. Jika menggunakan inkubator dengan elemen pendingin, analis perlu memperhatikan life-time dari elemen pendingin yang digunakan sehingga menghindari keadaan abnormal pada alat inkubator saat pengujian berlangsung.

  4. Jika menggunakan inkubator dengan module gas supply, selalu pantau tekanan gas pada regulator sehingga supply gas selalu dalam keadaan optimal dan efisien.

  5. Memperhatikan pelumas pada pintu inkubator.

  6. Kalibrasi rutin perlu dilakukan untuk mengetahui dan memantau performance alat secara berkala

 

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa inkubator adalah salah satu elemen terpenting dalam uji mikrobiologi sehingga pemilihannya perlu pertimbangkan yang matang ditinjau dari tipe sensor, range suhu, volume, elemen pemanas, dan fitur controller serta opsi seperti kelembaban, elemen pendingin, dan module gas supply. Tidak hanya pemilihan tetapi perawatan juga perlu dilakukan agar performance inkubator tetap optimal.

 

Referensi :

Badan Standardidasi Nasional. 2008. Standar Nasional Indonesia Nomor 2897 Tahun 2008 tentang “Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam daging, telur dan susu, serta hasil olahannya”

Badan Standardidasi Nasional. 2014. Standar Nasional Indonesia Nomor 7993 Tahun 2014 tentang “Tepung Bulu Unggas (Poultry Feather Meal) - Bahan Pakan Ternak”

Jones, Dr. Frank. 2022. Controlling Salmonella In Feed, https://www.kemin.com/na/en-us/markets/animal/pathogen-control/controlling-salmonella-in-feed#:~:text=The%20temperature%20and%20time%20required,%C2%B0F%20for%20160%20seconds diakses pada hari Senin Tanggal 6 Juni 2022 Pukul 14.24 WIB

Hakim, L., dkk. 2014. Keberadaan Bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp pada Limbah Pabrik Pakan Unggas (Pakan Ceceran) yang Difermentasi dengan Starter Fungsional (The Escherichia coli and Salmonella sp in Wastes Poultry Feeds (Scattered Feed) that was Fermented with Fungtional Starter), Animal Agriculture Journal, Vol. 3 (3) , hal 457-462

Majd, Ehsan dan Sedigheh Mehrabian. 2013. Use of HACCP for Control Salmonella Safety in Meat and Meat Food, International Journal of Education and Research, Vol 1 https://www.ijern.com/images/January-2013/c-02.pdf diakses pada Hari Rabu Tanggal 8 Juni 2022 Pukul 15.15

National Veterinary Institute / Statens Veterinärmedicinska Anstalt (SVA). 2020. Salmonella in Feed, https://www.sva.se/en/our-topics/feed-safety/salmonella-in-feed/ diakses pada Hari Senin Tanggal 6 Juni 2022 Pukul 10.32 WIB

Suwito, Widodo. 2010. Monitoring Salmonella sp dan Escherichia coli dalam Bahan Pakan Ternak (Salmonella sp and Escherichia coli Monitoring in the Animal Feed Ingredients), Buletin Peternakan, Vol 34 (3), hal 165-168
 

Previous Article

Monitoring BOD, COD dan TSS dalam Limbah Pulp dan Kertas

Monday, 23 May 2022
VIEW DETAILS

Next Article

Mengapa Oksigen Terlarut dalam Budidaya Ikan Penting?

Friday, 10 June 2022
VIEW DETAILS