Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364192{main}( ).../news-detail.php:0
Monitoring Kadar Logam Terlarut dalam Air

Monitoring Kadar Logam Terlarut dalam Air

Tuesday, 02 June 2026

Logam terlarut adalah parameter yang perlu diukur untuk mengetahui karakteristik sumber air yang digunakan untuk kebutuhan tertentu. Dengan mengetahui karakteristik air sumber yang digunakan, maka treatment yang tepat dapat dipertimbangkan dan diterapkan untuk mengoptimalkan dan mewujudkan efisiensi pengoperasian dan biaya operasional yang perlu direferensikan. Beberapa instrumen dapat digunakan untuk mengetahui kadar logam terlarut yang terkandung dalam air sumber, seperti HPLC, ICP dan spektrofotometer. Dari beberapa instrumen ini, instrumen spektrofotometer menawarkan analisis yang efisien, cepat dan biaya yang relatif lebih rendah. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas lebih lanjut terkait monitoring logam terlarut dalam sampel air. 

Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk beragam analisis dan aplikasi. Prinsip spektrofotometri berlaku pada alat ini, dimana analit akan direaksikan dengan ligan tertentu sehingga membentuk ion kompleks yang berwarna. Ion kompleks yang berwarna ini kemudian dideteksi dengan mengukur kemampuan absorbsinya dalam menyerap sinar monokromatis yang spesifik atau yang lebih sering dikenal dengan panjang gelombang maksimum (λmaks), sebagai nilai absorbansi. Nilai absorbansi ini kemudian dipakai dalam perhitungan untuk menentukan kadar analit yang terkandung dalam sampel. Namun pilihan spektrofotometer modern juga dapat dijadikan opsi untuk menampilkan konsentrasi analit secara otomatis, tanpa perhitungan secara manual. Konsentrasi ini akan tampil pada display dalam bentuk angka digital yang akan tersimpan secara otomatis dalam alat dan dapat dikirim ke perangkat lain seperti komputer dan USB.

Menurut Peraturan Kementerian Kesehatan RI Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan, disebutkan parameter logam terlarut dalam sampel air yang perlu diuji. Logam - logam tersebut antara lain dijabarkan pada Tabel 1. 

Tabel 1. Nilai Ambang Batas Beberapa Parameter Logam Terlarut

 

Parameter Logam terlarut

Nilai Ambang Batas

Kalsium 

Maks. 75 mg/L

Magnesium

30-150 mg/l

Besi

Maks. 0,2 mg/L

Mangan

Maks. 0,1 mg/lL

Krom (Chromium)

Maks. 0,01 mg/L

Tembaga

0,05 - 1,5 mg/L

Seng (Zinc)

1,00 - 15 mg/L

Arsen

Maks. 0,01 mg/L

Timbal

Maks. 0,01 mg/L

Selenium

Maks. 0,01 mg/L

Kadmium

Maks. 0,003 mg/L

Merkuri

Maks. 0,001 mg/L

Aluminum

Maks. 0,2 mg/L

 
 
Khusus untuk artikel ini, pembahasan akan menyangkut sebagian ion - ion logam yang disebutkan pada Tabel 1, yakni ion kalsium dan ion magnesium, ion besi, ion mangan, dan ion kromium. Penjelasan dari masing - masing logam terlarut tersebut dijabarkan sebagai berikut :
 
1. Kalsium dan Magnesium (Ca dan Mg)
Kalsium dan Magnesium seringkali dikenal sebagai kesadahan (hardness) dan biasanya dideteksi sebagai mg/L CaCO3. Pengukuran kesadahan diperlukan untuk mengetahui kekerasan suatu badan air, sehingga dapat diketahui treatment yang tepat pada badan air tersebut yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Berdasarkan APHA 3500-Ca dan APHA 3500-Mg, kadar kalsium dan kadar magnesium ditentukan dengan metode titrimetri menggunakan reagen EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid) atau garam EDTA. Digunakannya EDTA dimaksudkan agar ion - ion magnesium dan kalsium yang ada dalam badan air dapat diikat sehingga diubah menjadi suatu ion kompleks yang berwarna yang berlangsung pada pH yang cukup tinggi yakni antara pH 12 - pH 13.
 
Digunakannya metode titrimetri melalui alat buret digital ataupun automatic titrator direkomendasikan oleh APHA jika kadar kesadahan dalam air cukup tinggi. Namun metode fotometri juga dapat digunakan sebagai alternatif dengan memanfaatkan Alat Kolorimeter atau Spektrofotometer. Keduanya relevan untuk diaplikasikan, hanya saja pemanfaatannya diperuntukan pada rentang pengukuran yang berbeda. Metode spektrofotometri dapat diandalkan untuk pengukuran dengan rentang kadar kecil hingga medium sedangkan metode titrimetri ditujukan untuk pengukuran medium ke tinggi, meskipun pada beberapa kasus terdapat alat Automatic Titrator yang memiliki LOD (limit of detection) yang cukup rendah.Jika menggunakan metode spektrofotometri, maka analis perlu pengukur kadar Ca dan Mg secara terpisah, yang diukur pada panjang gelombang 522 nm pada Alat Spektrofotometer atau pada panjang gelombang 520 nm dengan Alat Kolorimeter.
 
2. Besi (Fe)
Pada APHA 3500-Fe direkomendasikan metode spektrofotometri dengan reagen pengkelat berupa ortho-phenanthroline untuk menentukan kadar besi pada suatu badan air. Secara prinsip, seluruh ion besi diubah menjadi bentuk Fe2+ dengan adanya penambahan asam dan hidroksilamin sehingga pH larutan terkondisikan pada pH 3.2 - pH 3.3. Pada kondisi pH ini ion besi (II) akan bereaksi dengan ortho-phenanthroline dengan membentuk kompleks yang berwarna jingga kemerahan. Sampel kemudian dapat dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 510 nm dengan menggunakan Alat Kolorimeter atau Alat Spektrofotometer.
 
3. Mangan (Mn)
Meski terdapat dalam berbagai macam bentuk oksida, mangan tetap perlu diukur sebagai total mangan karena semua bentuk oksidanya bersifat racun bagi badan air. Pengukuran mangan berdasarkan APHA 3500-Mn dilakukan dengan menggunakan metode persulfat. Prinsipnya adalah dengan mengubah seluruh bentuk mangan dalam badan air menjadi bentuk oksida tertingginya, yaitu permanganat melalui reaksi persulfat dan dengan adanya perak nitrat dalam reagen pereaksi. Metode ini menggunakan prinsip fotometri dengan menggunakan Alat Kolorimeter atau Alat Spektrofotometer pada panjang gelombang 525 nm.
 
4. Kromium (Cr)
Dua metode yang direkomendasikan untuk pengukuran krom oleh APHA adalah metode kolorimetri dan metode kromatografi ion. Perbedaan keduanya terletak pada alat yang digunakan, yang berpengaruh pada limit deteksi yang dapat terbaca oleh alat yang digunakan. Total kromium adalah gabungan dari kromium trivalen dan kromium heksavalen dari sampel. Pada metode kolorimetri, baik total kromium maupun kromium heksavalen, keduanya diukur pada panjang gelombang 540 nm jika menggunakan Alat Spektrofotometer atau pada panjang gelombang 560 nm jika menggunakan Alat Kolorimeter. Hanya saja, reagen yang direaksikan untuk menghasilkan kompleks berwarna ini berbeda, dimana reagen total krom mengandung senyawa oksidator yang dapat mengoksidasi ion kromium trivalen (Cr3+) menjadi ion kromium heksavalen (Cr6+).
 
Khusus metode kromatografi ion, metode ini hanya direkomendasikan untuk pengukuran ion krom heksavalen pada sampel air dan air minum dengan adanya pemisahan kromium trivalen dengan menggunakan kolom. Meski limit deteksinya sangat rendah dan rentang pengukuran lebih luas, namun metode kolorimetri masih dinilai lebih relevan dari segi cost analisis maupun cost operasional.
 
 

Cara Analisis Menggunakan Metode Spektrofotometri

Secara garis besar, analisis spektrofotometri dilakukan dengan mereaksikan analit yang terkandung dalam sampel dengan reagen pereaksi spesifik yang dapat mengubah zat analis menjadi suatu ion kompleks yang berwarna sehingga dapat dideteksi nilai absorbansinya pada panjang gelombang cahaya tampak (visible light). Sampel hasil preparasi ini kemudian ditempatkan dalam suatu kuvet atau sample cell dengan ukuran tertentu yang cocok dengan Alat Spektrofotometer atau Alat kolorimeter yang digunakan. Tentu sebelum mendeteksi sampel, analis perlu terlebih dahulu menyiapkan larutan blanko sebagai garis 0 (nol) yang dapat dijadikan pembanding bagi sampel yang diukur. Beberapa spektrofotometer mungkin hanya mendeteksi hasil absorbansi dan % transmitansi, sehingga diperlukan pembuatan kurva kalibrasi terlebih dahulu untuk mendapatkan nilai konsentrasi analit secara tepat dengan menggunakan rumus berikut : 

Namun seiring dengan perkembangan teknologi, Alat Spektrofotometer maupun Alat Kolorimeter yang modern pun kini dapat mendeteksi nilai konsentrasi secara langsung tanpa perhitungan secara manual, dengan perhitungan  berlangsung secara otomatis.

Gambar 1. Alur Uji Fotometri Menggunakan Alat Spektrofotometer/ Alat Kolorimeter

 
Mengapa Metode Spektrofotometri Layak Dipertimbangkan?

Dikutip dari Standard Method For The Examination of Water and Wastewater 24th Edition, metode fotometri merupakan metode yang sangat relevan karena dapat diaplikasikan untuk berbagai parameter - parameter analisis air dan air limbah, termasuk logam terlarut. Metode ini seringkali menjadi referensi utama karena memiliki banyak keunggulan, diantaranya : 

  1. Cepat dan Praktis

  2. Lebih hemat baik dari segi analisis maupun maintenance Alat

  3. Memiliki Sensitivitas tinggi

  4. Hasil yang stabil, akurat dan presisi

  5. Aplikasi luas, tidak hanya ion logam, anion maupun zat organik pun dapat dideteksi dengan Alat Spektrofotometer UV-Vis.

  6. Dewasa ini telah hadir spektrofotometer portable yang fleksibel dan cocok untuk analisis langsung di lapangan

Gambar 2. Tampilan Alat Spektrofotometer Benchtop dan Alat Portable untuk Analisis Lapangan
 

Referensi :

American Public Health Association. 2023. Standard Method For The Examination of Water and Wastewater Treatments 24th Edition. USA : APHA

Badan Standardisasi Nasional. Standar Nasional Indonesia Nomor 6989. Jakarta : BSN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang “Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 06 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan”

Previous Article

Uji Kualitas Kertas, Karton, dan Pulp: Kadar Abu

Tuesday, 26 May 2026
VIEW DETAILS

Next Article

Jenis-Jenis Spektrofotometer untuk Pengujian Parameter Kimia Air Limbah

Monday, 08 June 2026
VIEW DETAILS