Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364576{main}( ).../news-detail.php:0
Jenis-Jenis Spektrofotometer untuk Pengujian Parameter Kimia Air Limbah

Jenis-Jenis Spektrofotometer untuk Pengujian Parameter Kimia Air Limbah

Monday, 08 June 2026

Pengujian parameter kimia merupakan salah satu tahapan penting dalam pemantauan kualitas air limbah. Hasil pengujian digunakan untuk memastikan bahwa air limbah yang dihasilkan oleh industri maupun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah diolah dan akan dilepaskan ke lingkungan telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan yang berlaku seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2004.

Salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dalam laboratorium lingkungan untuk pengujian parameter kimia adalah spektrofotometer. Alat ini mampu mengukur konsentrasi suatu senyawa berdasarkan jumlah cahaya yang diserap oleh larutan pada panjang gelombang tertentu. Dengan bantuan reagen kimia yang sesuai dengan parameternya, spektrofotometer dapat digunakan untuk mengukur berbagai parameter seperti Chemical Oxygen Demand (COD), amonia, nitrat, nitrit, fosfat, besi, mangan, klorin, dan berbagai parameter kimia lainnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, tersedia berbagai jenis spektrofotometer yang dirancang untuk kebutuhan pengujian di lapangan maupun di laboratorium.

 

Prinsip Kerja Spektrofotometer dan Jenis-jenis Spektrofotometer

Spektrofotometer bekerja berdasarkan hukum Lambert-Beer yang menyatakan bahwa jumlah cahaya yang diserap oleh suatu larutan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang terdapat dalam larutan tersebut. Dalam pengujian air limbah, sampel biasanya direaksikan terlebih dahulu dengan reagen tertentu hingga menghasilkan warna. Intensitas warna yang terbentuk kemudian diukur oleh spektrofotometer dan dikonversi menjadi nilai konsentrasi parameter yang diuji.

Adapun jenis-jenis spektrofotometer yang umumnya digunakan dalam pengujian parameter kimia air limbah adalah sebagai berikut.

1. Spektrofotometer Portable - Visible (VIS) light

Spektrofotometer Visible (VIS) menggunakan cahaya tampak dengan rentang panjang gelombang sekitar 380–780 nm. Jenis spektrofotometer visible umumnya digunakan dalam pengujian kualitas air karena banyak parameter kimia menghasilkan warna yang dapat diukur pada daerah visible (cahaya tampak).

Parameter kimia air limbah yang umumnya diuji dengan menggunakan spektrofotometer visible adalah COD, Amonia, Nitrit, Fosfat, Besi, Mangan, Klorin bebas, dan Klorin total. Umumnya spektrofotometer visible meruakan instrumen yang memumpuni untuk digunakan dalam pengujian di lapangan. Spektrofotometer visible yang dapat digunakan di lapangan disebut dengan spektrofotometer portabel. Kelebihannya yaitu umumnya berukuran lebih kecil, mudah dipegang, anti-air, dapat menggunakan daya baterai dan tidak membutuhkan maintenance yang rumit.

Gambar 1. spektrofotometer portabel Visible

2. Spektrofotometer Benchtop - Visible (VIS) light

Spektrofotometer benchtop visible merupakan pilihan instrumen dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi untuk pengujian parameter kimia air limbah di laboratorium. Instrumen ini umumnya tidak dirancang untuk digunakan di lapangan karena berukuran lebih besar dan memerlukan sumber daya listrik secara langsung untuk pengoperasiannya, sehingga tidak perlu dilakukan pergantian atau pengisian ulang baterai secara berkala. Selain itu, spektrofotometer benchtop visible biasanya dilengkapi dengan berbagai fitur pendukung, seperti penyimpanan data yang lebih banyak, pemilihan metode analisis yang lebih beragam, serta kemampuan pengukuran yang lebih stabil, sehingga sangat sesuai digunakan untuk analisis rutin maupun pengujian yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi.

Gambar 2. Benchtop Spektrofotometer Visible

3. Spektrofotometer UV-Visible (UV-Vis)

Spektrofotometer UV-Vis mampu bekerja pada daerah ultraviolet dan visible, umumnya pada rentang 190–1100 nm. Dibandingkan dengan spektrofotometer Visible, spektrofotometer UV-Vis memiliki rentag panjang gelombang yang luas sehingga dapat digunakan untuk analisis yang lebih kompleks, yang tidak bisa dijangkau dengan panjang gelombang visible. Kelebihan dengan penggunaan spektrofotometer UV-Vis adalah sensitivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan spektrofotometer visible, jangkauan sampel aplikasi pengujian tidak hanya terbatas pada air limbah saja dan mencakup berbagai metode pengujian. Spektrofotometer UV-Vis umumnya tersedia dengan model benchtop untuk penggunaan di laboratorium.

Gambar 3. Spektrofotometer UV-Vis

Selain spektrofotometer, pengujian parameter kimia air limbah juga dapat dilakukan menggunakan kolorimeter, yaitu instrumen yang mengukur intensitas warna hasil reaksi antara analit dan reagen tertentu. Dibandingkan spektrofotometer, kolorimeter memiliki desain yang lebih sederhana dan menggunakan panjang gelombang tetap melalui filter optik, sehingga lebih praktis dan ekonomis untuk pengujian rutin parameter seperti klorin, amonia, nitrat, nitrit, fosfat, besi, dan mangan. Namun, karena memiliki rentang pengukuran dan fleksibilitas metode yang lebih terbatas, kolorimeter lebih sesuai untuk analisis sederhana, sedangkan spektrofotometer lebih direkomendasikan untuk pengujian dengan cakupan parameter yang lebih luas dan kebutuhan akurasi yang lebih tinggi.

Gambar 4. Kolorimeter

 

Faktor-faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memilih Spektrofotometer

Sebelum memilih spektrofotometer, beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

1. Parameter yang akan diuji. Sebaiknya analis sudah mengetahui parameter apa saja yang akan diuji menggunakan spektrofotometer. Setiap jenis spektrofotometer memiliki kemampuan dan rentang panjang gelombang yang berbeda. Spektrofotometer visible (VIS) umumnya sudah cukup untuk digunakan dalam pengujian parameter yang menghasilkan warna pada daerah cahaya tampak, seperti COD, amonia, fosfat, dan klorin. Namun, apabila pengujian melibatkan parameter yang memerlukan pengukuran pada daerah ultraviolet, seperti nitrat dengan metode UV atau senyawa organik tertentu, maka spektrofotometer UV-Vis menjadi pilihan yang lebih tepat.

2. Jumlah sampel yang dianalisis. Banyaknya sampel yang dianalisis dapat memengaruhi efisiensi kerja laboratorium serta spesifikasi instrumen yang dibutuhkan. Laboratorium dengan jumlah sampel yang tinggi memerlukan spektrofotometer dengan kecepatan analisis yang baik, stabilitas pengukuran yang tinggi, serta kemampuan penyimpanan data yang memadai.

3. Kebutuhan pengujian di laboratorium atau lapangan. Beberapa parameter harus segera diuji setelah pengambilan sampel karena sifatnya yang tidak stabil dan dapat berubah selama proses penyimpanan atau transportasi. Dalam kondisi seperti ini, pengujian secara langsung di lapangan sangat dianjurkan untuk memperoleh hasil yang lebih representatif. Oleh karena itu, penggunaan spektrofotometer portabel menjadi pilihan yang direkomendasikan karena mudah dibawa, praktis digunakan, dan memungkinkan analisis dilakukan segera setelah pengambilan sampel. Sebaliknya, apabila seluruh pengujian dilakukan di laboratorium dengan kondisi yang terkontrol, spektrofotometer dengan model benchtop dapat memberikan fitur dan kemampuan analisis yang lebih lengkap.

4. Rentang konsentrasi parameter yang akan diukur. Rentang konsentrasi parameter dalam sampel perlu menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan spektrofotometer. Instrumen yang dipilih harus memiliki batas deteksi (limit of detection) dan rentang pengukuran yang sesuai dengan konsentrasi analit yang diperkirakan terdapat dalam sampel. Penggunaan instrumen dengan rentang pengukuran yang tidak sesuai dapat menyebabkan hasil analisis kurang akurat, misalnya karena nilai absorbansi terlalu rendah atau melebihi rentang linear alat. Pada beberapa kasus, diperlukan pengenceran sampel atau penggunaan metode alternatif untuk mendapatkan hasil yang valid.

5. Persyaratan akurasi dan regulasi yang berlaku. Pemilihan spektrofotometer juga harus mempertimbangkan tingkat akurasi yang dibutuhkan serta persyaratan regulasi yang berlaku. Laboratorium yang melakukan pengujian untuk tujuan pelaporan kepada instansi pemerintah, pemenuhan standar lingkungan, atau laboratorium yang terakreditasi sesuai standar seperti ISO/IEC 17025, umumnya memerlukan instrumen dengan tingkat akurasi, presisi, dan ketertelusuran hasil yang tinggi. Selain itu, metode pengujian yang digunakan sebaiknya mengacu pada standar yang diakui, seperti Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, USEPA, atau standar nasional yang berlaku seperti Standar Nasional Indonesia (SNI).

6. Kemudahan kalibrasi dan perawatan instrumen. Kalibrasi dan perawatan rutin sangat penting untuk menjaga performa spektrofotometer agar tetap optimal. Oleh karena itu, sebaiknya dipilih instrumen yang memiliki prosedur kalibrasi yang mudah dilakukan dan didukung dengan panduan perawatan yang jelas. Ketersediaan layanan purna jual, dukungan teknis, serta kemudahan memperoleh suku cadang juga perlu dipertimbangkan. Instrumen yang mudah dirawat dapat membantu mengurangi waktu henti operasional (downtime) dan memperpanjang umur pakai alat.

7. Ketersediaan metode dan reagen yang sesuai. Keberhasilan analisis menggunakan spektrofotometer tidak hanya bergantung pada instrumennya, tetapi juga pada ketersediaan metode pengujian dan reagen yang kompatibel. Sebelum memilih instrumen, perlu dipastikan bahwa metode analisis untuk parameter yang dibutuhkan telah tersedia dan tervalidasi. Selain itu, ketersediaan reagen di pasaran, kemudahan pengadaan, masa simpan reagen, serta biaya operasional yang terkait juga perlu diperhitungkan. Penggunaan metode dan reagen yang sesuai akan membantu menghasilkan data yang akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, laboratorium dapat memilih spektrofotometer yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional dan jenis analisis yang dilakukan. Pemilihan instrumen yang tepat tidak hanya meningkatkan efisiensi pengujian, tetapi juga memastikan kualitas data yang dihasilkan sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan kualitas air limbah.

 

Referensi:

Hach Company. (2022). Water Analysis Handbook (8th ed.). Loveland, Colorado: Hach Company.

Hach Company. (2024). DR3900 Laboratory Spectrophotometer Procedures Manual. Loveland, Colorado: Hach Company.

Hach Company. (2024). DR6000 UV-Vis Spectrophotometer Procedures Manual. Loveland, Colorado: Hach Company.

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Previous Article

Monitoring Kadar Logam Terlarut dalam Air

Tuesday, 02 June 2026
VIEW DETAILS

Next Article

Elektroda pH dan Aplikasinya untuk Industri Kimia

Monday, 15 June 2026
VIEW DETAILS