Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364080{main}( ).../news-detail.php:0
Uji Mikrobiologi Produk Dairy

Uji Mikrobiologi Produk Dairy

Friday, 30 June 2023

Mengapa perlu dilakukan uji batas cemaran mikroba dalam produk dairy? Apabila mikroba dalam suatu produk dairy melebihi ambang batas yang telah ditentukan, hal ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas produk hingga kerusakan produk yang diproduksi ataupun diedarkan. Oleh karena itu, sebelum diedarkan, produk dairy harus melewati pengujian cemaran mikroba. Pengujian cemaran mikroba yang wajib dilakukan pada produk dairy yaitu uji Angka Lempeng Total (ALT) atau uji Total Plate Count (TPC), koliform (Coliform), Eschericia coli, Staphylacoccus aureus, Salmonella spp., Campylobacter spp. dan Listeria Monocytogenes. Hal ini diatur di dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 2897 Tahun 2008. Dalam pengujian cemaran mikroba, analis perlu juga memastikan bahwa alat-alat untuk melakukan pengujian seperti autoklaf manual atau autoklaf digital, ovenwater bath, inkubator, mikroskop, colony counter, dan alat lainnya telah sesuai dengan spesifikasi atau ketentuan yang diatur dalam metode pengujian tersebut.

 

BAGAIMANA PROSES PENGUJIAN CEMARAN MIKROBA PRODUK DAIRY?

Standar metode pengujian cemaran mikroba dalam produk dairy yang merupakan bahan makanan yang berbasis susu atau terbuat dari hasil olahan susu, termasuk susu itu sendiri, cream, butter, keju, yogurt, kefir, es krim, custard, dan produk-produk olahan lainnya turunan susu lainnya seperti permen, selai, sereal, pancake, waffle, dan lainnya ini meliputi uji Angka Lempeng Total (ALT) atau uji Total Plate Count (TPC), koliform (Coliform), Eschericia coli, Staphylacoccus aureus, Salmonella spp., Campylobacter spp. dan Listeria Monocytogenes.

1. Uji Angka Lempeng Total (ALT) atau Total Plate Count (TPC)

Pengujian Angka Lempeng Total (ALT) atau Total Plate Count (TPC) dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah mikroba yang terdapat dalam produk dairy dengan cara menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan pada media agar. Pengujiian TPC diawali dengan dibuatkan pengenceran dengan menggunakan Buffered Pepton Water (BPW) 0,1%. Kemudian suspensi dari setiap pengenceran dimasukkan ke dalam cawan petri secara duplo dan ditambahkan Plate Count Agar (PCA), dan didiamkan sampai menjadi padat. Setelah itu, diinkubasikan pada temperatur 32 ⁰C ± 1 ⁰C selama 24 - 48 jam.

Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah koloni dengan menghitung jumlah koloni dengan memilih cawan yang mempunyai jumlah koloni 25 sampai dengan 250. Interpretasi hasil dilakukan dengan melihat cawan dengan jumlah koloni kurang dari 25, cawan dengan jumlah koloni lebih dari 250, koloni yang menyebar (spreaders), dan cawan tanpa koloni. Skema uji TPC dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Skema Uji Angka Lempeng Total (ALT) atau Total Plate Count (TPC)

2. Uji Koliform (Coliform) dan Eschericia coli

Pengujian Most Probable Number (MPN) terdiri dari uji presumtif (penduga) dan uji konfirmasi (peneguhan), dengan menggunakan media cair di dalam tabung reaksi dan dilakukan berdasarkan jumlah tabung positif. Pengamatan tabung positif dapat dilihat dengan timbulnya gas di dalam tabung Durham.

Pengujian  MPN Coliform dan Eschericia coli diawali dengan membuat pengenceran seperti pada pengujian TPC. Uji pendugaan Coliform dan E. coli menggunakan Lauryl Sulfate Tryptose Broth (LSTB) dan uji peneguhan Coliform menggunakan Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB). Sedangkan uji peneguhan E. coli menggunakan Escherichia Coli Broth (ECB).

Banyaknya Coliform yang terdapat dalam sampel uji diinterpretasikan dengan mencocokkan kombinasi jumlah tabung yang memperlihatkan hasil positif, berdasarkan tabel nilai MPN Kombinasi yang diambil, dimulai dari pengenceran tertinggi yang masih menghasilkan semua tabung positif, sedangkan pada pengenceran berikutnya terdapat tabung yang negatif. 

Pada pengujian E. coli, dilanjutkan dengan isolasi-identifikasi melalui uji biokimia Indole, Methyl red, Voges-Proskauer dan Citrate (IMViC). Uji isolasi – identifikasi yaitu dibuat goresan pada media Levine Eosin Methylene Blue Agar (L-EMBA) atau Violet Red Bile Agar (VRBA) dari tabung ECB yang positif, inkubasi pada temperatur 35 °C selama 18 jam sampai dengan 24 jam. Koloni yang diduga E. coli berdiameter 2 mm sampai dengan 3 mm, warna hitam atau gelap pada bagian pusat koloni, dengan atau tanpa metalik kehijauan yang mengkilat pada media L-EMBA. Ambil koloni yang diduga dari masing-masing media L-EMBA dengan menggunakan jarum ose, dan pindahkan ke PCA miring. Inkubasikan PCA miring pada temperatur 35 °C selama 18 jam sampai dengan 24 jam untuk uji biokimia.

Uji biokimia untuk E. coli dengan uji IMViC – uji produksi indole yaitu dengan cara menginokulasikan koloni dari tabung PCA pada Tryptose Broth (TB) dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 24 jam ± 2 jam dan ditambahkan reagen Kovac. Hasil reaksi positif ditandai dengan adanya bentuk cincin merah pada lapisan atas media, sedangkan hasil reaksi negatif ditandai dengan terbentuknya cincin kuning. Selanjutnya, uji biokimia dengan uji IMViC – Uji Voges-Proskauer (VP): Ambil biakan dari media PCA lalu diinokulasikan ke tabung yang berisi media Methyl Red-Voges Proskauer (MR-VP) dan diinkubasikan pada temperatur 35 °C selama 48 jam ± 2 jam. Kemudian pindahkan MR-VP ke tabung reaksi dan tambahkan larutan α-naphthol dan KOH 40 %. Lalu hasil reaksi positif ditandai adanya warna merah muda eosin dalam waktu 2 jam.

Kemudian uji biokimia dengan uji IMViC - Uji Methyl Red (MR) dilakukan dengan mengambil biakan dari media PCA lalu inokulasikan ke tabung yang berisi media MR-VP dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 48 jam ± 2 jam. Kemudian tambahkan indikator MR pada tabung, dan hasil uji positif ditandai adanya warna merah dan hasil reaksi negatif ditandai adanya warna kuning.

Selain itu, uji biokimia dengan uji IMViC - Uji citrate dilakukan dengan menginokulasikan koloni dari media agar miring PCA ke dalam media Koser Citrate Broth (KCB), dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 96 jam, dan hasil uji positif ditandai dengan terbentuknya kekeruhan pada media. Skema uji Coliform dapat dilihat pada gambar 2 dan skema uji E. coli dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini.

Gambar 2. Skema Uji Koliform (Coliform)

Gambar 3. Uji Eschericia coli

3. Staphylococcus aureus

Metode yang digunakan dalam pengujian jumlah Staphylococcus aureus yaitu dengan menghitung cawan secara sebar pada permukaan media.

Langkah-langkah pengujian jumlah S. aureus adalah sebagai berikut:

  • Pengujian selalu disertai dengan menggunakan kontrol positif. Pengenceran dilakukan seperti pada pengujian sebelumnya. Namun, untuk contoh susu cair dimulai dari pengenceran 100, sedangkan untuk sampel susu (padat dan semi padat) mulai pengenceran 101.
  • Kemudian tuang ke media BPA yang sudah ditambah dengan egg yolk tellurite emultion. Lalu pipet suspensi dari setiap pengenceran, dan diinokulasikan masing-masing pada cawan petri yang berisi media. Setelah itu, inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 45 jam sampai dengan 48 jam.
  • Lalu pilih cawan petri yang mengandung jumlah koloni 20 sampai dengan 200. Apabila cawan petri pada pengenceran terendah berisi < 20 koloni dan atau > 200 koloni, maka lanjutkan penghitungan koloni pada cawan petri dengan pengenceran yang lebih tinggi.
  • Koloni S. aureus mempunyai ciri khas bundar, licin dan halus, cembung, diameter 2 mm sampai dengan 3 mm, berwarna abu-abu sampai hitam pekat, dikelilingi zona opak, dengan atau tanpa zona luar yang terang (clear zone). Tepi koloni putih dan dikelilingi daerah yang terang. Catat jumlah masing-masing koloni yang mempunyai ciri tersebut.
  • Ambil satu atau lebih koloni dari masing-masing bentuk yang tumbuh dan lakukan uji identifikasi.
  • Uji identifikasi - Pengecatan Gram: Hasil Pengecatan gram akan terlihat bakteri berbentuk kokus berwarna ungu (Gram positif), bergerombol seperti anggur atau terlihat hanya satu bakteri.
  • Uji identifikasi - Uji koagulase: Ambil satu atau lebih koloni yang diduga S. aureus dan masukkan ke dalam Brain Heart Infusion Broth (BHIB) dan homogenkan. Kemudian inkubasikan BHIB dan agar miring Tryptone Soya Agar (TSA) pada temperatur 35 °C selama 18 -24 jam. Lalu tambahkan koagulase plasma kelinci (coagulase rabbit plasma) yang mengandung Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA) ke dalam suspensi BHIB yang telah diinkubasi kemudian homogenkan. Setelah itu, inkubasikan tabung pada temperatur 35 °C selama 6 jam dan amati setiap jam terhadap pembentukan gumpalan. Hasil uji koagulase positif S. aureus ditandai dengan adanya penggumpalan.

Setelah itu, hitung koloni-koloni dari cawan petri yang menunjukkan koloni khas S. aureus dan menunjukkan hasil uji koagulase positif, kemudian dikalikan dengan faktor pengencerannya. Hasil dilaporkan sebagai jumlah S. aureus per mililiter atau per gram.​

Gambar 4. Staphylococcus aureus pada media TSA

4. Salmonella spp.

Pertumbuhan Salmonella spp. pada media selektif dengan pra-pengayaan (pre-enrichment), dan pengayaan (enrichment) yang dilanjutkan dengan uji biokimia dan uji serologi.

Pengujian Salmonella spp. adalah sebagai berikut:

  • Pra-pengayaan: Pra-pengayaan dilakukan dengan menambahkan larutan Lactose Broth (LB) dan diinkubasikan pada temperatur 35 ⁰C selama 24 jam ± 2 jam.
  • Pengayaan: Biakan pra-pengayaan dipindahkan ke dalam media Tetra Thionate Broth (TTB) dan Rappapport Vassiliadis (RV). Untuk pengayaan pada media TTB, diinkubasikan pada temperatur 35 °C ± 2 °C selama 24 jam ± 2 jam. Sedangkan pengayaan pada media RV, diinkubasikan pada temperatur 42 °C ± 0,2 °C selama 24 jam ± 2 jam.
  • Isolasi dan identifikasi: setelah diinkubasikan, koloni Salmonella spp. diambil dan diinokulasikan pada media Hektoen Enteric Agar (HEA), Xylose Lysine Deoxycholate Agar (XLDA) dan Bismuth Sulfite Agar (BSA). Selanjutnya diinkubasikan pada temperatur 35 °C selama 24 jam ± 2 jam. Amati koloni Salmonella pada media HE terlihat berwarna hijau kebiruan dengan atau tanpa titik hitam (H2S). Pada media XLD koloni terlihat merah muda dengan atau tanpa titik mengkilat atau terlihat hampir seluruh koloni hitam. Untuk media BSA koloni terlihat keabu-abuan atau kehitaman, kadang metalik, media di sekitar koloni berwarna coklat dan semakin lama waktu inkubasi akan berubah menjadi hitam. Kemudian lakukan identifikasi dengan mengambil koloni yang diduga dari ketiga media tersebut. Inokulasikan ke Triple Sugar Iron Agar (TSIA) dan Lysine Iron Agar (LIA) dengan cara menusuk ke dasar media agar, selanjutnya digores pada media agar miring. Selanjutnya diinkubasikan pada temperatur 35 °C selama 24 jam ± 2 jam.
  • Uji biokimia dilakukan dengan uji urease, uji indole, uji Voges-Proskauer (VP), uji Methyl Red (MR), uji citrate, uji Lysine Decarboxylase Broth (LDB), uji Kalium Cyanida (KCN), dan uji gula-gula; yang terdiri atas uji Phenol red dulcitol broth atau purple broth base dengan 0,5 % dulcitol, uji malonate broth, uji phenol red lactose broth, dan uji phenol red sucrose broth.
  • Kemudian Uji serologis: uji serologis terdiri atas uji polyvalent somatic (O) dan uji polyvalent flagelar (H).

Gambar 5. Salmonella spp.

5. Pengujian Campylobacter spp.

Pertumbuhan Campylobacter spp. pada media selektif melalui tahapan pra-pengayaan, pengayaan, isolasi dan identifikasi serta konfirmasi.

Langkah-langkah pengujian Campylobacter spp. adalah sebagai berikut.

  • Penyiapan sampel: Ukur sampel kemudian disentrifus dingin 20.000 rpm selama 40 menit, kemudian disaring dan dibuang supernatannya. Pindahkan endapan ke dalam botol sentrifus steril yang berisi enrichment broth (Bolton broth base ditambah lysed horse blood, ditambah juga Bolton antibiotik).
  • Pra-pengayaan (metode modifikasi Park dan Humphrey) dilakukan dengan menginkubasikan suspensi pada temperatur 37 °C selama 4 jam dalam kondisi mikroaerobik dengan Gas Tank System.
  • Setelah itu, dilakukan pengayaan dengan menaikkan temperatur inkubasi suspensi menjadi 42 °C selama 23 jam sampai dengan 24 jam, dan 48 jam.
  • Selanjutnya dilakukan isolasi, yang mana suspensi dibuat pengenceran dengan dimasukkan ke dalam pepton 0,1 %. Goreskan masing-masing suspensi pada media agar AHB atau modified Charcoal – Cefoperazone - Deoxycholate Agar (mCCDA). Inkubasikan pada temperatur 42 °C selama 24 jam sampai dengan 48 jam dalam Gas Tank System. Amati pertumbuhan pada inkubasi 24 jam.
  • Identifikasi: Koloni berbentuk bulat atau tidak beraturan dengan tepi halus dan berwarna putih translusen dengan pertumbuhan menyebar. Pilih minimal 1 koloni dari tiap cawan petri dan siapkan pada gelas obyek. Lihat bentuk sel bakteri dibawah mikroskop dengan minyak emersi. Sel Campylobacter spp. terlihat berbentuk koma atau melengkung, panjang 1,5 – 5 μm dan dengan formasi zigzag. Campylobacter spp. umumya motil dan 20 % C. jejuni adalah tidak motil. Sel yang sudah tua dan cedera (injured) akan mengalami penurunan motilitas dan terjadi perubahan bentuk menjadi bulat. Pengujian selalu disertai dengan kontrol positif.
  • Konfirmasi dan uji biokimia: Meliputi uji katalase, uji sensitifitas antibiotik, pengecatan Gram, uji hippurate hydrolysis, uji dengan TSIA, uji glucose utilization, uji katalase-oxidase, uji growth temperature tolerance, uji pertumbuhan pada MacConkey Agar, dan uji pertumbuhan (yang terdiri dari uji pertumbuhan pada glycine 1 %, uji pertumbuhan pada NaCl 3,5 %, uji H2S dari cysteine, dan reduksi nitrat).

Gambar 6. Campylobacter spp.

6. Listeria Monocytogenes

Metode pengujian ini didasarkan pada isolasi dan identifikasi bakteri Listeria monocytogenes dengan cara pembiakan pada media selektif.

Langkah-langkah Pengujian L. monocytogenes adalah sebagai berikut:

  • Ditambahkan Buffered Listeria Enrichment Broth ke dalam kantong atau wadah steril yang berisi sampel, homogenkan.
  • Dilakukan pra-pengayaan dengan menginkubasi suspensi  pada temperatur 30 °C selama 4 jam.
  • Dilanjutkan dengan pengayaan dengan cara suspensi diinkubasi sampai dengan 48 jam dengan menambahkan antibiotik Cycloheximide atau Natamycine. Setelah diinkubasikan, masing-masing dgoreskan 1 ose suspensi pada OXA atau PALCAM atau MOX atau LPM. Lalu inkubasikan media OXA, PALCAM, dan MOX pada temperatur 35 °C selama 24 jam sampai dengan 48 jam, sedangkan media LPM diinkubasikan pada temperatur 30 °C selama 24 jam sampai dengan 48 jam. Pada media LPM koloni Listeria terlihat berwarna abu-abu kebiruan atau putih. Pada OXA dan PALCAM koloni berwarna hitam dikelilingi zona jernih. Pada agar darah domba/kuda bakteri L. monocytogenes, tampak cekung dibagian tengahnya, berwarna abu-abu kebiruan, dikelilingi zona jernih (karena adanya sifat hemolisa dari L. monocytogenes).
  • Kemudian dilakukan identifikasi dengan uji pengecatan gram, uji motilitas, uji gula-gula, uji katalase, dan uji konfirmasi dengan CAMP test.

Gambar 7. Listeria monocytogenes

 

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan dan Penggunaan Alat Uji Mikrobiologi

Alat-alat uji mikrobiologi yang umumnya dibutuhkan dan perlu diperhatikan dalam pengujian mikrobiologi adalah autoklaf manual atau autoklaf digital, ovenwater bath, inkubator, mikroskop dan colony counter.

1. Autoklaf

Penggunaan autoklaf dapat beresiko terhadap user (pengguna) seperti bahaya fisik yang disebabkan oleh suhu tinggi, uap, tekanan dan benda tajam; bahaya biologis seperti infeksi dari bahan yang disterilisasi. Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah bahaya dari penggunaan autoklaf manual ataupun autoklaf digital adalah sebagai berikut:

  1. Air untuk sterilisasi dengan menggunakan autoklaf harus menggunakan air suling (aquades) dan tidak boleh menggunakan air keran (tap water).
  2. Pastikan untuk mengisi aquades sebelum sterilisasi dilakukan. Jangan pernah melakukan sterilisasi tanpa mengisi aquades terlebih dahulu, hal ini dapat merusak elemen pemanas pada autoklaf.
  3. Peletakan autoklaf diharapkan jauh dari bahan mudah terbakar.
  4. Pastikan bahwa alat atau bahan yang disterilisasi diletakan tidak terlalu rapat di dalam autoklaf sehingga sirkulasi uap dapat optimal.
  5. Pastikan bahwa penutup autoklaf telah tertutup rapat dan terkunci dengan benar sebelum digunakan.
  6. Jangan mengeluarkan alat dan bahan yang disterilisasi sebelum suhu turun di bawah 80⁰C. dan tekanan mencapai 0 sebelum autoklaf dibuka.
  7. Penggunaan sarung tangan tahan panas dianjurkan jika ingin menyentuh autoklaf saat digunakan atau sebelum menjadi dingin. Selain itu, pengambilan alat tajam yang disterilisasi dengan menggunakan forceps dan jangan menggunakan tangan secara langsung.
  8. Selama siklus sterilisasi, penggunaan autoklaf untuk mensterilkan peralatan bersih (dan atau media biakan), tidak dilakukan secara bersamaan dengan dekontaminasi peralatan yang sudah digunakan (dan atau media biakan yang telah digunakan). Sebaiknya menggunakan autoklaf terpisah untuk kedua proses tersebut atau dilakukan secara bergantian pada autoklaf yang sama.

2. Oven

Oven yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi khususnya untuk proses sterilisasi sebaiknya memiliki tombol power untuk menghidupkan dan/atau mematikan fungsi kipas, serta dapat dinaikan ataupun diturunkan kecepatannya. Kemudian dilengkapi dengan display yang mudah untuk dioperasikan oleh user dan dapat menampilkan suhu setingan dan suhu yang telah dicapai oleh alat oven.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan oven yaitu:

  1. Demi keamanan, selalu jaga jarak antara bagian atas alat dengan bagian elemen pemanas oven. Setidaknya ada jarak sekitar 1 inchi, serta jangan menggunakan oven ketika pintu dalam keadaan terbuka. Pada proses penggunaan oven, sebaiknya jangan terlalu sering membuka-tutup pintu oven.
  2. Dalam perawatannya oven laboratorium sebaiknya dibersihkan setelah digunakan, agar tidak menyimpan debu yang menempel pada bagian-bagian oven. Kemudian hindari penggunaan zat abarsif dalam membersihkan oven, serta hindari mengelap element pemanas pada oven.
  3. Memastikan bahwa apabila oven sudah tidak digunakan maka steker listrik alat oven telah dicabut dan dibiarkan hingga suhunya turun atau dingin.
  4. Sebaiknya menggunakan kain lap lembut untuk membersihkannya pada bagian dalam atau bagian chamber oven, sedangkan untuk bagian luar Anda bisa menggunakan kain lap basah.
  5. Oven laboratorium perlu dirawat agar dapat digunakan secara maksimal, caranya dengan melakukan kalibrasi minimal satu tahun satu kali.

3. Inkubator

Salah satu proses yang paling penting dalam pengujian mikrobiologi adalah inkubasi. Inkubasi dilakukan dengan menggukan inkubator. Inkubasi dalam pengujian mikrobiologi dilakukan untuk melihat apakah adanya pertumbuhan mikroba pada sampel uji. Sebelum melakukan inkubasi, penting untuk mengetahui jenis bakteri yang perlu diuji dan suhu inkubasi yang dibutuhkan untuk menumbuhkan bakteri yang ingin diuji terdapat pada suatu sampel.

Perlu diingat dan diketahui bahwa walaupun umumnya bentuk dan parameter yang dapat diatur sama yaitu suhu, namun inkubator dan oven sangatlah berbeda baik dari segi spesifikasi maupun fungsi. Umumnya inkubator hanya dapat diatur hingga suhu 70°C sedangkan oven dapat mengatur hingga 300°C. Selain itu karena fungsinya inkubator adalah menginkubasi dan menjaga suhu inkubasi sesuai dengan suhu pertumbuhan yang dibutuhkan oleh sampel dan menjaga agar tidak terkontaminasi oleh lingkungan luar, maka inkubator dilengkapi dengan pintu bagian dalam yang biasanya terbuat dari bahan kaca (glass) sehingga memudahkan user dalam memantau pertumbuhan media kultur dan menjaga suhu tetap konstan selama inkubasi berlangsung, sedangkan untuk oven tidak dilengkapi dengan pintu bagian dalam.

4. Water bath

Water bath menghasilkan panas dengan prinsip panas yang berasal dari aliran listrik yang dihantarkan melalui media air di dalam chamber water bath menghasilkan panas yang homogen pada media air. Oleh karena itu, user perlu memerhatikan kualitas air yang digunakan pada water bath. Umumnya air yang digunakan adalah air dengan nilai konduktivitasnya adalah 5 – 10 µS dan nilai pH nya adalah antara 5 dan 7, kurang ataupun lebih dari nilai itu tidak dianjurkan digunakan dalam water bath karena dapat mengakibatkan korosi pada alat dan kontaminasi pada aplikasi sampel atau bahan yang diinkubasi atau dipanaskan dengan menggunakan water bath. Kemudian user juga perlu memerhatikan minimum dan maksimum level yang berada pada dinding chamber water bath ketika airnya diisi ataupun selama proses pemanasan berlangsung, hal ini guna mengoptimalkan aplikasi yang dilakukan dengan menggunakan water bath. Apabila air yang digunakan pada water bath tidak sesuai dengan standar spesifikasinya maka dapat menimbulkan korosi dan kontaminasi pada sampel, bahkan dapat menyebakan kerusakan pada alat water bath yang digunakan.

5. Colony counter

Colony counter yang dibutuhkan dalam pengujian mikrobiologi yaitu colony counter yang tersedia dengan warna dan pencerahan yang dapat dikostumisasi. Colony counter yang digunakan juga sebaiknya memiliki atau tersedia dalam pilihan atau variasi warna yang beragam sehingga memudahkan user untuk memilih dan menyesuaikan dengan media uji ataupun bakteri uji. Colony counter yang digunakan sebaiknya dapat diatur kebutuhan brightness-nya dan memiliki sistem perhitungan yang otomatis dengan impuls perhitungan yang diaktifkan oleh plate count yang sensitif terhadap tekanan sehingga hasil yang terhitung adalah hasil yang akurat. Colony counter yang digunakan sebaiknya dapat menghitung maksimum perhitungannya yang dapat mewakili pengenceran 10-1, yang artinya dapat menghitung koloni dengan jumlah yang banyak, misalnya 999 koloni. Colony counter yang digunakan sebaiknya memiliki diameter counting plate nya seperti yang umumnya tersedia yaitu 145 mm. Kemudian colony counter yang digunakan sebaiknya memiliki penerangan yang dihasilkan adalah bebas silau dan menggunakan LED dengan daya tinggi. Selain itu penyinaran colony counter yang digunakan sebaiknya bersumber baik dari bawah maupun samping dan tidak akan menghasilkan pemanasan pada cawan petri yang dihitung. Colony counter yang digunakan sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, dan juga dapat menggunakan sisipan pereduksi untuk menggunakan cawan petri yang berdiameter lebih kecil.

6. Mikroskop

Selain melakukan perhitungan koloni, kita juga sebaiknya melakukan pengamatan terhadap mikroba yang terbentuk dari sampel uji untuk memastikan spesies apa yang teridentifikasi dalam sampel uji. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskoop. Mikroskop yang digunakan sebaiknya yang khusus untuk pengamatan bakteri.

Berikut contoh gambar alat-alat yang umumnya digunakan di laboratorium mikrobiologi yaitu autoklaf manual atau autoklaf digital, oven, inkubator, water bath, colony counter, dan mikroskop.

Gambar 8. Alat-alat laboratorium uji mikrobiologi

 

 

Referensi:

Badan Standardisasi Nasional. 2009. Standar Nasional Indonesia nomor 2981 tentang: Yogurt.

Badan Standardisasi Nasional. 2008. Standar Nasional Indonesia nomor 2897 tentang: Metode pengujian cemaran mikrobia dalam daging, telur dan susu serta hasil olahannya.

Previous Article

Elektroda pH: Pembersihan dan Perawatan

Monday, 26 June 2023
VIEW DETAILS

Next Article

Mengenal Data Logger Suhu

Wednesday, 05 July 2023
VIEW DETAILS