| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364080 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Mengapa perlu dilakukan uji batas cemaran mikroba dalam produk dairy? Apabila mikroba dalam suatu produk dairy melebihi ambang batas yang telah ditentukan, hal ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas produk hingga kerusakan produk yang diproduksi ataupun diedarkan. Oleh karena itu, sebelum diedarkan, produk dairy harus melewati pengujian cemaran mikroba. Pengujian cemaran mikroba yang wajib dilakukan pada produk dairy yaitu uji Angka Lempeng Total (ALT) atau uji Total Plate Count (TPC), koliform (Coliform), Eschericia coli, Staphylacoccus aureus, Salmonella spp., Campylobacter spp. dan Listeria Monocytogenes. Hal ini diatur di dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 2897 Tahun 2008. Dalam pengujian cemaran mikroba, analis perlu juga memastikan bahwa alat-alat untuk melakukan pengujian seperti autoklaf manual atau autoklaf digital, oven, water bath, inkubator, mikroskop, colony counter, dan alat lainnya telah sesuai dengan spesifikasi atau ketentuan yang diatur dalam metode pengujian tersebut.
BAGAIMANA PROSES PENGUJIAN CEMARAN MIKROBA PRODUK DAIRY?
Standar metode pengujian cemaran mikroba dalam produk dairy yang merupakan bahan makanan yang berbasis susu atau terbuat dari hasil olahan susu, termasuk susu itu sendiri, cream, butter, keju, yogurt, kefir, es krim, custard, dan produk-produk olahan lainnya turunan susu lainnya seperti permen, selai, sereal, pancake, waffle, dan lainnya ini meliputi uji Angka Lempeng Total (ALT) atau uji Total Plate Count (TPC), koliform (Coliform), Eschericia coli, Staphylacoccus aureus, Salmonella spp., Campylobacter spp. dan Listeria Monocytogenes.
1. Uji Angka Lempeng Total (ALT) atau Total Plate Count (TPC)
Pengujian Angka Lempeng Total (ALT) atau Total Plate Count (TPC) dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah mikroba yang terdapat dalam produk dairy dengan cara menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan pada media agar. Pengujiian TPC diawali dengan dibuatkan pengenceran dengan menggunakan Buffered Pepton Water (BPW) 0,1%. Kemudian suspensi dari setiap pengenceran dimasukkan ke dalam cawan petri secara duplo dan ditambahkan Plate Count Agar (PCA), dan didiamkan sampai menjadi padat. Setelah itu, diinkubasikan pada temperatur 32 ⁰C ± 1 ⁰C selama 24 - 48 jam.
Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah koloni dengan menghitung jumlah koloni dengan memilih cawan yang mempunyai jumlah koloni 25 sampai dengan 250. Interpretasi hasil dilakukan dengan melihat cawan dengan jumlah koloni kurang dari 25, cawan dengan jumlah koloni lebih dari 250, koloni yang menyebar (spreaders), dan cawan tanpa koloni. Skema uji TPC dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Skema Uji Angka Lempeng Total (ALT) atau Total Plate Count (TPC)
2. Uji Koliform (Coliform) dan Eschericia coli
Pengujian Most Probable Number (MPN) terdiri dari uji presumtif (penduga) dan uji konfirmasi (peneguhan), dengan menggunakan media cair di dalam tabung reaksi dan dilakukan berdasarkan jumlah tabung positif. Pengamatan tabung positif dapat dilihat dengan timbulnya gas di dalam tabung Durham.
Pengujian MPN Coliform dan Eschericia coli diawali dengan membuat pengenceran seperti pada pengujian TPC. Uji pendugaan Coliform dan E. coli menggunakan Lauryl Sulfate Tryptose Broth (LSTB) dan uji peneguhan Coliform menggunakan Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB). Sedangkan uji peneguhan E. coli menggunakan Escherichia Coli Broth (ECB).
Banyaknya Coliform yang terdapat dalam sampel uji diinterpretasikan dengan mencocokkan kombinasi jumlah tabung yang memperlihatkan hasil positif, berdasarkan tabel nilai MPN Kombinasi yang diambil, dimulai dari pengenceran tertinggi yang masih menghasilkan semua tabung positif, sedangkan pada pengenceran berikutnya terdapat tabung yang negatif.
Pada pengujian E. coli, dilanjutkan dengan isolasi-identifikasi melalui uji biokimia Indole, Methyl red, Voges-Proskauer dan Citrate (IMViC). Uji isolasi – identifikasi yaitu dibuat goresan pada media Levine Eosin Methylene Blue Agar (L-EMBA) atau Violet Red Bile Agar (VRBA) dari tabung ECB yang positif, inkubasi pada temperatur 35 °C selama 18 jam sampai dengan 24 jam. Koloni yang diduga E. coli berdiameter 2 mm sampai dengan 3 mm, warna hitam atau gelap pada bagian pusat koloni, dengan atau tanpa metalik kehijauan yang mengkilat pada media L-EMBA. Ambil koloni yang diduga dari masing-masing media L-EMBA dengan menggunakan jarum ose, dan pindahkan ke PCA miring. Inkubasikan PCA miring pada temperatur 35 °C selama 18 jam sampai dengan 24 jam untuk uji biokimia.
Uji biokimia untuk E. coli dengan uji IMViC – uji produksi indole yaitu dengan cara menginokulasikan koloni dari tabung PCA pada Tryptose Broth (TB) dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 24 jam ± 2 jam dan ditambahkan reagen Kovac. Hasil reaksi positif ditandai dengan adanya bentuk cincin merah pada lapisan atas media, sedangkan hasil reaksi negatif ditandai dengan terbentuknya cincin kuning. Selanjutnya, uji biokimia dengan uji IMViC – Uji Voges-Proskauer (VP): Ambil biakan dari media PCA lalu diinokulasikan ke tabung yang berisi media Methyl Red-Voges Proskauer (MR-VP) dan diinkubasikan pada temperatur 35 °C selama 48 jam ± 2 jam. Kemudian pindahkan MR-VP ke tabung reaksi dan tambahkan larutan α-naphthol dan KOH 40 %. Lalu hasil reaksi positif ditandai adanya warna merah muda eosin dalam waktu 2 jam.
Kemudian uji biokimia dengan uji IMViC - Uji Methyl Red (MR) dilakukan dengan mengambil biakan dari media PCA lalu inokulasikan ke tabung yang berisi media MR-VP dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 48 jam ± 2 jam. Kemudian tambahkan indikator MR pada tabung, dan hasil uji positif ditandai adanya warna merah dan hasil reaksi negatif ditandai adanya warna kuning.
Selain itu, uji biokimia dengan uji IMViC - Uji citrate dilakukan dengan menginokulasikan koloni dari media agar miring PCA ke dalam media Koser Citrate Broth (KCB), dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 96 jam, dan hasil uji positif ditandai dengan terbentuknya kekeruhan pada media. Skema uji Coliform dapat dilihat pada gambar 2 dan skema uji E. coli dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini.

Gambar 2. Skema Uji Koliform (Coliform)

Gambar 3. Uji Eschericia coli
3. Staphylococcus aureus
Metode yang digunakan dalam pengujian jumlah Staphylococcus aureus yaitu dengan menghitung cawan secara sebar pada permukaan media.
Langkah-langkah pengujian jumlah S. aureus adalah sebagai berikut:
Setelah itu, hitung koloni-koloni dari cawan petri yang menunjukkan koloni khas S. aureus dan menunjukkan hasil uji koagulase positif, kemudian dikalikan dengan faktor pengencerannya. Hasil dilaporkan sebagai jumlah S. aureus per mililiter atau per gram.

Gambar 4. Staphylococcus aureus pada media TSA
4. Salmonella spp.
Pertumbuhan Salmonella spp. pada media selektif dengan pra-pengayaan (pre-enrichment), dan pengayaan (enrichment) yang dilanjutkan dengan uji biokimia dan uji serologi.
Pengujian Salmonella spp. adalah sebagai berikut:

Gambar 5. Salmonella spp.
5. Pengujian Campylobacter spp.
Pertumbuhan Campylobacter spp. pada media selektif melalui tahapan pra-pengayaan, pengayaan, isolasi dan identifikasi serta konfirmasi.
Langkah-langkah pengujian Campylobacter spp. adalah sebagai berikut.

Gambar 6. Campylobacter spp.
6. Listeria Monocytogenes
Metode pengujian ini didasarkan pada isolasi dan identifikasi bakteri Listeria monocytogenes dengan cara pembiakan pada media selektif.
Langkah-langkah Pengujian L. monocytogenes adalah sebagai berikut:

Gambar 7. Listeria monocytogenes
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan dan Penggunaan Alat Uji Mikrobiologi
Alat-alat uji mikrobiologi yang umumnya dibutuhkan dan perlu diperhatikan dalam pengujian mikrobiologi adalah autoklaf manual atau autoklaf digital, oven, water bath, inkubator, mikroskop dan colony counter.
1. Autoklaf
Penggunaan autoklaf dapat beresiko terhadap user (pengguna) seperti bahaya fisik yang disebabkan oleh suhu tinggi, uap, tekanan dan benda tajam; bahaya biologis seperti infeksi dari bahan yang disterilisasi. Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah bahaya dari penggunaan autoklaf manual ataupun autoklaf digital adalah sebagai berikut:
2. Oven
Oven yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi khususnya untuk proses sterilisasi sebaiknya memiliki tombol power untuk menghidupkan dan/atau mematikan fungsi kipas, serta dapat dinaikan ataupun diturunkan kecepatannya. Kemudian dilengkapi dengan display yang mudah untuk dioperasikan oleh user dan dapat menampilkan suhu setingan dan suhu yang telah dicapai oleh alat oven.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan oven yaitu:
3. Inkubator
Salah satu proses yang paling penting dalam pengujian mikrobiologi adalah inkubasi. Inkubasi dilakukan dengan menggukan inkubator. Inkubasi dalam pengujian mikrobiologi dilakukan untuk melihat apakah adanya pertumbuhan mikroba pada sampel uji. Sebelum melakukan inkubasi, penting untuk mengetahui jenis bakteri yang perlu diuji dan suhu inkubasi yang dibutuhkan untuk menumbuhkan bakteri yang ingin diuji terdapat pada suatu sampel.
Perlu diingat dan diketahui bahwa walaupun umumnya bentuk dan parameter yang dapat diatur sama yaitu suhu, namun inkubator dan oven sangatlah berbeda baik dari segi spesifikasi maupun fungsi. Umumnya inkubator hanya dapat diatur hingga suhu 70°C sedangkan oven dapat mengatur hingga 300°C. Selain itu karena fungsinya inkubator adalah menginkubasi dan menjaga suhu inkubasi sesuai dengan suhu pertumbuhan yang dibutuhkan oleh sampel dan menjaga agar tidak terkontaminasi oleh lingkungan luar, maka inkubator dilengkapi dengan pintu bagian dalam yang biasanya terbuat dari bahan kaca (glass) sehingga memudahkan user dalam memantau pertumbuhan media kultur dan menjaga suhu tetap konstan selama inkubasi berlangsung, sedangkan untuk oven tidak dilengkapi dengan pintu bagian dalam.
4. Water bath
Water bath menghasilkan panas dengan prinsip panas yang berasal dari aliran listrik yang dihantarkan melalui media air di dalam chamber water bath menghasilkan panas yang homogen pada media air. Oleh karena itu, user perlu memerhatikan kualitas air yang digunakan pada water bath. Umumnya air yang digunakan adalah air dengan nilai konduktivitasnya adalah 5 – 10 µS dan nilai pH nya adalah antara 5 dan 7, kurang ataupun lebih dari nilai itu tidak dianjurkan digunakan dalam water bath karena dapat mengakibatkan korosi pada alat dan kontaminasi pada aplikasi sampel atau bahan yang diinkubasi atau dipanaskan dengan menggunakan water bath. Kemudian user juga perlu memerhatikan minimum dan maksimum level yang berada pada dinding chamber water bath ketika airnya diisi ataupun selama proses pemanasan berlangsung, hal ini guna mengoptimalkan aplikasi yang dilakukan dengan menggunakan water bath. Apabila air yang digunakan pada water bath tidak sesuai dengan standar spesifikasinya maka dapat menimbulkan korosi dan kontaminasi pada sampel, bahkan dapat menyebakan kerusakan pada alat water bath yang digunakan.
Colony counter yang dibutuhkan dalam pengujian mikrobiologi yaitu colony counter yang tersedia dengan warna dan pencerahan yang dapat dikostumisasi. Colony counter yang digunakan juga sebaiknya memiliki atau tersedia dalam pilihan atau variasi warna yang beragam sehingga memudahkan user untuk memilih dan menyesuaikan dengan media uji ataupun bakteri uji. Colony counter yang digunakan sebaiknya dapat diatur kebutuhan brightness-nya dan memiliki sistem perhitungan yang otomatis dengan impuls perhitungan yang diaktifkan oleh plate count yang sensitif terhadap tekanan sehingga hasil yang terhitung adalah hasil yang akurat. Colony counter yang digunakan sebaiknya dapat menghitung maksimum perhitungannya yang dapat mewakili pengenceran 10-1, yang artinya dapat menghitung koloni dengan jumlah yang banyak, misalnya 999 koloni. Colony counter yang digunakan sebaiknya memiliki diameter counting plate nya seperti yang umumnya tersedia yaitu 145 mm. Kemudian colony counter yang digunakan sebaiknya memiliki penerangan yang dihasilkan adalah bebas silau dan menggunakan LED dengan daya tinggi. Selain itu penyinaran colony counter yang digunakan sebaiknya bersumber baik dari bawah maupun samping dan tidak akan menghasilkan pemanasan pada cawan petri yang dihitung. Colony counter yang digunakan sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, dan juga dapat menggunakan sisipan pereduksi untuk menggunakan cawan petri yang berdiameter lebih kecil.
6. Mikroskop
Selain melakukan perhitungan koloni, kita juga sebaiknya melakukan pengamatan terhadap mikroba yang terbentuk dari sampel uji untuk memastikan spesies apa yang teridentifikasi dalam sampel uji. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskoop. Mikroskop yang digunakan sebaiknya yang khusus untuk pengamatan bakteri.
Berikut contoh gambar alat-alat yang umumnya digunakan di laboratorium mikrobiologi yaitu autoklaf manual atau autoklaf digital, oven, inkubator, water bath, colony counter, dan mikroskop.

Gambar 8. Alat-alat laboratorium uji mikrobiologi
Referensi:
Badan Standardisasi Nasional. 2009. Standar Nasional Indonesia nomor 2981 tentang: Yogurt.
Badan Standardisasi Nasional. 2008. Standar Nasional Indonesia nomor 2897 tentang: Metode pengujian cemaran mikrobia dalam daging, telur dan susu serta hasil olahannya.