| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364384 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Faktor apa yang dapat menyebabkan kerusakan pada Dairy Product (Produk Olahan Susu)? Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada dairy product adalah pertumbuhan dan aktivitas mikroba terutama bakteri, ragi, dan kapang. Beberapa mikroba dapat membentuk lendir, gas, busa, warna yang menyimpang, asam, racun dan lain-lain yang menunjukkan kerusakan pada dairy product. Untuk itu, bagaimana cara untuk memastikan atau menguji apakah dairy product yang diproduksi bebas dari mikroba? Metode pengujian yang tepat telah ditentukan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 2897:2008, yaitu dengan pengujian Total Plate Count (TPC), pengujian Most Probable Number (MPN) Coliform, pengujian MPN Escherichia coli, pengujian jumlah Staphylococcus aureus, pengujian Salmonella spp., pengujian Campylobacter spp., dan pengujian Listeria monocyptogenes.
Dairy product merupakan bahan makanan yang berbasis susu atau terbuat dari hasil olahan susu, termasuk susu itu sendiri, cream, butter, keju, yogurt, kefir, es krim, custard, dan produk-produk olahan lainnya turunan susu lainnya seperti permen, selai, sereal, pancake, waffle, dan lainnya. Sedangkan susu itu sendiri adalah cairan yang berasal dari ambing ternak perah sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar sesuai ketentuan yang berlaku, yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali proses pendinginan [1].
Bagaimana cara pengujian mikroba pada dairy product?
Cemaran mikroba merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan kualitas dairy product. Sehingga perlu untuk melakukan monitoring cemaran mikroba. Adapun cara pengujian cemaran mikroba pada dairy product seperti yang telah disebutkan diatas adalah sebagai berikut [1].
1. Pengujian Total Plate Count (TPC)
Pengujian Total Plate Count (TPC) dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah mikroba yang terdapat dalam dairy product dengan cara menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan pada media agar.
Pengujiian TPC diawali dengan dibuatkan pengenceran dengan menggunakan Buffered Pepton Water (BPW) 0,1%. Kemudian suspensi dari setiap pengenceran dimasukkan ke dalam cawan petri secara duplo dan ditambahkan Plate Count Agar (PCA), dan didiamkan sampai menjadi padat. Setelah itu, diinkubasikan pada temperatur 32 ⁰C ± 1 ⁰C selama 24 - 48 jam (dapat dilihat pada Gambar 1. dibawah ini).

Gambar 1. Langkah-langkah pengujian TPC: preparasi sampel (pengenceran), pengayaan, dan peneguhan
Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah koloni dengan menghitung jumlah koloni dengan memilih cawan yang mempunyai jumlah koloni 25 sampai dengan 250. Interpretasi hasil dilakukan dengan melihat cawan dengan jumlah koloni kurang dari 25, cawan dengan jumlah koloni lebih dari 250, koloni yang menyebar (spreaders), dan cawan tanpa koloni.
2. Pengujian Most Probable Number (MPN) Coliform dan Eschericia coli
Pengujian Most Probable Number (MPN) terdiri dari uji presumtif (penduga) dan uji konfirmasi (peneguhan), dengan menggunakan media cair di dalam tabung reaksi dan dilakukan berdasarkan jumlah tabung positif. Pengamatan tabung positif dapat dilihat dengan timbulnya gas di dalam tabung Durham.
Pengujian Most Probable Number (MPN) Coliform dan Eschericia coli diawali dengan membuat pengenceran seperti pada pengujian TPC. Uji pendugaan Coliform dan E. coli menggunakan Lauryl Sulfate Tryptose Broth (LSTB) dan uji peneguhan Coliform menggunakan Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB). Sedangkan uji pendugaan E. coli menggunakan Escherichia Coli Broth (ECB). Langkah-langkah pengujian pendugaan dan peneguhan Coliform dan E. coli disajikan dalam Gambar 2 skema dibawah ini.

Gambar 2. Skema langkah-langkah pengujian pendugaan dan peneguhan Coliform dan E. coli
Banyaknya Coliform yang terdapat dalam sampel uji diinterpretasikan dengan mencocokkan kombinasi jumlah tabung yang memperlihatkan hasil positif, berdasarkan tabel nilai MPN Kombinasi yang diambil, dimulai dari pengenceran tertinggi yang masih menghasilkan semua tabung positif, sedangkan pada pengenceran berikutnya terdapat tabung yang negatif. Kombinasi yang diambil terdiri dari tiga pengenceran. Nilai MPN sampel dihitung dengan rumus:

Pada pengujian E. coli, dilanjutkan dengan isolasi-identifikasi melalui uji biokimia Indole, Methyl red, Voges-Proskauer dan Citrate (IMViC). Uji isolasi – identifikasi yaitu dibuat goresan pada media Levine Eosin Methylene Blue Agar (L-EMBA) atau Violet Red Bile Agar (VRBA) dari tabung ECB yang positif, inkubasi pada temperatur 35 °C selama 18 jam sampai dengan 24 jam. Koloni yang diduga E. coli berdiameter 2 mm sampai dengan 3 mm, warna hitam atau gelap pada bagian pusat koloni, dengan atau tanpa metalik kehijauan yang mengkilat pada media L-EMBA. Ambil koloni yang diduga dari masing-masing media L-EMBA dengan menggunakan ose, dan pindahkan ke PCA miring. Inkubasikan PCA miring pada temperatur 35 °C selama 18 jam sampai dengan 24 jam untuk uji biokimia.
Uji biokimia untuk E. coli dengan uji IMViC – uji produksi indole yaitu dengan cara menginokulasikan koloni dari tabung PCA pada Tryptose Broth (TB) dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 24 jam ± 2 jam dan ditambahkan reagen Kovac. Hasil reaksi positif ditandai dengan adanya bentuk cincin merah pada lapisan atas media, sedangkan hasil reaksi negatif ditandai dengan terbentuknya cincin kuning. Selanjutnya, uji biokimia dengan uji IMViC – Uji Voges-Proskauer (VP): Ambil biakan dari media PCA lalu diinokulasikan ke tabung yang berisi media Methyl Red-Voges Proskauer (MR-VP) dan diinkubasikan pada temperatur 35 °C selama 48 jam ± 2 jam. Kemudian pindahkan MR-VP ke tabung reaksi dan tambahkan larutan α-naphthol dan KOH 40 %. Lalu hasil reaksi positif ditandai adanya warna merah muda eosin dalam waktu 2 jam.
Kemudian uji biokimia dengan uji IMViC - Uji Methyl Red (MR) dilakukan dengan mengambil biakan dari media PCA lalu inokulasikan ke tabung yang berisi media MR-VP dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 48 jam ± 2 jam. Kemudian tambahkan indikator MR pada tabung, dan hasil uji positif ditandai adanya warna merah dan hasil reaksi negatif ditandai adanya warna kuning.
Selain itu, uji biokimia dengan uji IMViC - Uji citrate dilakukan dengan menginokulasikan koloni dari media agar miring PCA ke dalam media Koser Citrate Broth (KCB), dan inkubasikan pada temperatur 35 °C selama 96 jam, dan hasil uji positif ditandai dengan terbentuknya kekeruhan pada media.
Interpretasi hasil pengujian biokimia dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Interpretasi Hasil Pengujian Biokimia
4. Pengujian jumlah Staphylococcus aureus
Metode yang digunakan dalam pengujian jumlah Staphylococcus aureus yaitu dengan menghitung cawan secara sebar pada permukaan media.
Langkah-langkah pengujian jumlah Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut:
5. Pengujian Salmonella spp.
Pertumbuhan Salmonella pada media selektif dengan pra pengayaan (pre-enrichment), dan pengayaan (enrichment) yang dilanjutkan dengan uji biokimia dan uji serologi.
Pengujian Salmonella spp. adalah sebagai berikut:
6. Pengujian Campylobacter spp.
Pertumbuhan Campylobacter pada media selektif melalui tahapan pra-pengayaan, pengayaan, isolasi dan identifikasi serta konfirmasi.
Langkah-langkah pengujian Campylobacter spp. adalah sebagai berikut.
7. Pengujian Listeria monocytogenes
Metode pengujian ini didasarkan pada isolasi dan identifikasi bakteri Listeria monocytogenes dengan cara pembiakan pada media selektif.
Langkah-langkah Pengujian Listeria monocytogenes adalah sebagai berikut:
Interpretasi hasil uji L. monocytogenes dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Interpretasi Hasil Uji L. monocytogenes

Alat atau instrument apa saja yang dibutuhkan dalam pengujian mikroba pada dairy product?
Pengujian mikroba pada dairy product yang sesuai dengan metode dalam SNI, dibutuhkan alat yang tepat. Adapun alat atau instrument yang umumnya digunakan pada pengujian mikroba pada dairy product dalam menunjang metode pengujian yang telah dipaparkan diatas adalah sebagai berikut.
1. Neraca analitik
Timbangan Analitik seperti Kern ABS 220 – 4N; ABS 320-4N; ABJ 320-4NM; ABJ 220-4NM dapat digunakan untuk menimbang bahan-bahan yang akan digunakan dalm pengujian Salmonella secara akurat.

Gambar 1. ABS 220 – 4N
2. Pipet
Pipet 1 channel HIRSCHMANN-94775404 Labopette digital dengan pengaturan volume variable 1-10 ml dapat digunakan untuk pengambilan bahan-bahan pengujian berupa cairan secara akurat sesuai dengan variabel volume yang dibutuhkan pada saat pengujian.

Gambar 2. HIRSCHMANN-94775404
3. Inkubator
Inkubator Memmert tersedia dalam berbagai ukuran. salah satu tipe yang dapat dipakai pada pengujian Salmonella adalah IN30 Inkubator. IN30 Incubator adalah inkubator dari Memmert yang memiliki volume sebesar 32 L. Instrumen ini memiliki model tampilan SingleDisplay dan tipe sirkulasi udara Natural air circulation (Convection). Pengaturan kisaran suhu pada inkubator Memmert adalah +20 hingga +80 ⁰C. Inkubator Memmert pada pengujian Salmonella pada yogurt digunakan untuk menginkubasi (menumbuhkan) mikroorganisme pada sampel yogurt untuk suhu 35 ⁰C dan selanjutnya dapat dilakukan pengujian lanjutan.

Gambar 3. IN30 Inkubator
4. Oven
Oven Universal Memmert tersedia dalam berbagai ukuran yang dapat digunakan untuk mensterilisasikan alat-alat pengujian sebelum digunakan ataupun setelah digunakan, antara lain cawan petri, labu Erlenmeyer, dan pipet.

Gambar 4. Oven Memmert
5. Waterbath
Waterbath basic WNB Memmert dapat digunakan untuk menginkubasi sampel uji pada media pengkayaan TT broth pada (35 ± 2,0) ⁰C selama (24 ± 2 jam).

Gambar 5. Waterbath basic WNB Memmert
6. Autoklaf
Autoklaf Hirayama atau All American untuk pengujian Salmonella pada yogurt digunakan untuk sterilisasi alat ataupun bahan/media yang akan digunakan pada pengujian.

Gambar 6. Autoclave Hirayama
7. Kertas pH
Kertas pH digunakan untuk mengukur pH pada saat pra-pengkayaan sampel yogurt.
8. Pipet tetes
9. Botol pengencer 1000 ml
Botol pengencer digunakan sebagai wadah pengenceran untuk menghomogenkan sampel yogurt untuk pra-pengkayaan.
10. Tabung reaksi
Tabung reaksi digunakan pada pengujian sebagai tempat pengenceran atau penyimpanan media.
11. Gelas ukur 10 ml
12. Cawan petri
Cawan petri pada pengujian digunakan antara lain untuk tempat menimbang bahan, tempat menumbuhkan sampel uji,
13. Gelas sediaan
14. Pengaduk gelas
15. Jarum inokulasi
Jarum inokulai atau jarum ose biasanya digunakan untuk melakukan inokulasi sampel uji.
16. Pensil lilin
17. Bunsen
Bunsen pada pengujian digunakan untuk sterilisasi jarum ose sebelum inokulasi sampel, dan mengkondisikan area dalam kondisi aseptis.
Referensi :
[1] Badan Standardisasi Nasional. 2009. Standar Nasional Indonesia 2981:2010 “Yogurt”. Badan Standardisasi Nasional