| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364480 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Metode yang digunakan dalam pengujian kadar abu pada produk dairy umumnya adalah metode gravimetri. Apa itu metode gravimetri? Gravimetri dalam ilmu kimia merupakan salah satu metode kimia analitik untuk menentukan kuantitas suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan. Analisis gravimetri melibatkan proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Pengujian kadar abu dilakukan untuk memonitoring kualitas produk makanan dan minuman yang sesuai dengan Official Method of Analysis of The Association of Official Analytical Chemistry (AOAC) dan Standar nasional Indonesia (SNI).
Abu merupakan residu hasil pembakaran suatu sampel pada suhu diatas 500 ⁰C . Nilai kadar Abu untuk masing - masing jenis produk dairy berbeda-beda. Metode penentuan kadar abu dilakukan secara gravimetri dengan membandingkan berat sebelum dan setelah pembakaran. Nilai Standard kadar abu pada beberapa jenis produk dairy adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Standarisasi % Kadar Abu pada Beberapa Jenis Produk Dairy
|
Produk Dairy |
Kadar Abu (%) |
|
Susu kental manis |
1,4 – 2,2 |
|
Susu bubuk diet diabetes |
maks. 9,0 |
|
Kopi gula susu dalam kemasan |
maks. 3,0 |
|
Susu fermentasi berperisa |
maks 1,0 |
|
Tepung es krim |
maks. 3,0 |
Kadar abu yang umumnya ditentukan pada produk dairy adalah kadar abu total. Kadar abu total dapat diartikan sebagai komponen anorganik yang tersisa setelah proses pembakaran dilakukan. Hal ini karena dalam prosesnya, komponen organik akan terurai menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Dalam penentuannya, sampel produk dairy yang telah diketahui bobotnya dimasukkan ke dalam cawan porselen dan dibakar dalam furnace pada suhu 550 ⁰C, kemudian didinginkan dalam desikator. Hasil abu kemudian ditimbang dan dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:
w = bobot sampel sebelum diabukan, dalam gram
w1 = bobot sampel + cawan sesudah diabukan, dalam gram
w2 = bobot cawan kosong, dalam gram.
Guna memastikan monitoring kadar abu berlangsung secara optimal, diperlukan instrument yang memadai untuk tercapainya tujuan ini. Berikut adalah beberapa tips untuk memilih furnace yang baik untuk analisa kadar abu pada produk dairy:
Referensi:
Standar Nasional Indonesia 01-2971-1998 Susu Kental Manis
Standar Nasional Indonesia -1-3701-1995 Susu Bubuk Diet Diabetes
Standar Nasional Indonesia 6685:2009 Kopi Gula Susu dalam Kemasan
Standar Nasional Indonesia 7552:2009 Susu Fermentasi Berperisa
Standar Nasional Indonesia 01-3725-1995 Tepung Es Krim
AOAC. 2005. Official Method of Analysis of The Association of Official Analytical Chemistry. Washington D.C.: AOAC Intl.