| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364480 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Terdapat banyak parameter dalam menjaga kualitas suatu produk selama penyimpanan, baik untuk bahan baku maupun produk jadi. Dua parameter yang penting dalam menjaga kualitas produk selama penyimpanan adalah suhu dan kelembaban (humidity). Penyimpanan bahan baku dan produk jadi harus dilakukan pada suhu dan kelembaban yang sesuai untuk menjamin keamanan, efektifitas dan kualitas bahan baku maupun produk jadi. Untuk itu, monitoring suhu dan kelembaban sangat penting untuk dilakukan secara berkala. Bagaimana cara Anda melakukan monitoring suhu dan kelembaban bahan baku dan produk jadi selama penyimpanan?
Suhu dan Kelembaban Produk
Kerusakan bahan baku dan produk jadi dalam industri pangan, terjadi jika bahan baku atau produk jadi menunjukkan perubahan yang nyata, yang terlihat dari perubahan sensorik (penampakan, konsistensi, bau dan rasa yang menunjukkan bahan baku atau produk jadi tidak dapat diolah ataupun dikonsumsi. Adapun standard suhu dan kelembaban bahan baku dan produk jadi pangan selama penyimpanan ditampilkan pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Standard suhu dan kelembaban bahan baku dan produk jadi pangan selama penyimpanan

Selain industri pangan, bahan baku dan produk farmasi juga sangat penting untuk memerhatikan suhu dan kelembaban selama penyimpanan. Suhu penyimpanan obat dapat memengaruhi sifat dan stabilitas atau ketahanan bentuk dan kualitas obat tersebut. Suhu yang tidak sesuai dapat memengaruhi efek zat aktif yang terkandung dalam obat. Struktur obat tersebut dapat berubah sehingga berpotensi membuat obat-obatan menjadi kurang manjur dan bahkan dapat menghasilkan efek yang berbeda dari yang seharusnya. Selain itu, masa penyimpanan obat atau waktu kedaluwarsa obat pun dapat berubah bila obat tidak ditaruh di suhu yang sesuai. Suatu penelitian mengungkapkan antibiotik seperti ampisilin, eritromisin, dan furosemida dalam bentuk injeksi yang disimpan pada suhu yang tidak sesuai menunjukkan perubahan waktu kedaluwarsa hingga satu tahun lebih cepat. Akibatnya, label tanggal kadaluarsa obat bisa menjadi tidak tepat sehingga obat pun bisa jadi tidak lagi efektif untuk mengobati bahkan tidak aman untuk dikonsumsi.
Berdasarkan buku panduan resmi standarisasi sediaan obat, Farmakope Indonesia, suhu penyimpanan maupun suhu yang harus diperhatikan pada obat memiliki kriteria sebagai berikut:
Tips Menyimpan Produk dalam Menjaga Kualitas
Adapun tips-tips dalam menjaga kualitas bahan baku dan produk jadi adalah sebagai berikut:
Tips Memilih Alat untuk Memonitoring Suhu dan Kelembaban
Pemilihan alat untuk monitoring suhu dan kelembaban sangat penting untuk diperhatikan karena dengan pemilihan alat yang tepat maka dapat menjaga kualitas produk yang disimpan. Adapun tips memilih alat ukur suhu dan kelembaban yang tepat dalam memonitoring suhu dan kelembaban produk adalah sebagai berikut.
Referensi:
https://www.sehatq.com/artikel/berapa-suhu-penyimpanan-obat-agar-tidak-mudah-rusak
http://www.saka.co.id/news-detail/ebro-temperature-data-logger