| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364192 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Suhu (temperature) dan kelembaban (humidity) merupakan parameter penting dalam memonitoring kondisi area penyimpanan produk. Pengaturan suhu dan kelembaban yang tepat dalam penyimpanan produk dapat menjamin keamanan, ketahanan dan kualitas suatu produk. Beberapa produk, baik itu produk makanan dan minuman maupun obat-obatan sangat sensitif terhadap naik turunnya suhu ataupun kelembaban, hal ini dapat menyebabkan kerusakan produk, juga mempengaruhi ketahanan dan kualitas suatu produk. Untuk itu, kedua parameter ini perlu dimonitoring khususnya selama penyimpanan produk.
Kerusakan bahan ataupun produk jadi makanan terlihat jika menunjukkan perubahan seperti perubahan sensorik (penampakan, konsistensi, bau, warna dan rasa) yang membuat produk tersebut tidak dapat diolah ataupun dikonsumsi lagi. Beberapa contoh standar suhu dan kelembaban produk makanan yaitu seperti buah potong segar atau sayuran memiliki suhu penyimpanan berkisar pada 0 – 2⁰C dan kelembaban berkisar pada 90 – 98 % RH; telur, susu dan butter memiliki suhu penyimpanan berkisar 7 - 10⁰C dan kelembaban berkisar pada 85 – 95 % RH, ikan segar memiliki suhu penyimpanan 0 - 1⁰C dan kelembaban berkisar 90 – 95 % RH; dan produk makanan lainnya. Sedangkan perubahan naik-turunnya suhu dan kelembaban pada penyimpanan produk obat-obatan dapat menyebabkan terdegradasinya obat, juga teraktivasinya bahan aktif suatu obat.
Menurut pharmaguideline.com, penyimpanan produk obat-obatan disimpan dalam beberapa kondisi suhu yaitu:
Hal ini didukung juga dengan standar suhu penyimpanan produk farmasi berdasarkan FDA 21 CFR 211 yang mengacu pada United State Pharmacopia yang menstandarkan suhu rata-rata penyimpanan produk farmasi adalah pada 2 - 8⁰C, sedangkan penyimpanan beku dilakukan pada kisaran suhu -25⁰C hingga -10⁰C.
Dalam monitoring suhu dan kelembaban, penggunaan data logger yang dilengkapi dengan software perekam yang dapat menghubungkan data logger dengan PC merupakan alat yang tepat untuk digunakan. Hal ini guna mengantisipasi dan memonitoring naik-turunnya suhu dan kelembaban area penyimpanan produk, juga dapat mempermudah dalam mengekstrak data pengukuran suhu dan kelembaban area penyimpanan yang dapat berguna pada saat dilakukannya audit mutu. Secara singkat, rangkaian data logger dan PC ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini. Penggunaan data logger juga sangat tepat dikarenakan penyimpanan data yang secara otomatis. Penggunaan data logger yang memiliki system alarm juga memudahkan user dalam memonitoring naik-turunnya suhu atau kelembaban khususnya untuk produk-produk yang mudah rusak atau terdegradasi karena perubahan suhu yang tidak sesuai.

Gambar 1. Rangkaian alat data logger dan PC
Keterangan:
1. Data logger
2. Kabel interface
3. Interface
4. PC/Komputer
Referensi:
Food and Drugs Administration (FDA). 2019. CFR – Code of Federal Regulations Title 21, https://www.accessdata.fda.gov/scripts/cdrh/cfdocs/cfcfr/CFRSearch.cfm?fr=211.150
https://www.pharmaguideline.com/2015/08/different-storage-conditions.html