| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364352 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Tahukah Anda bahwa air yang digunakan untuk hemodialisis adalah air khusus? Air khusus yang digunakan dalam hemodialisis adalah air yang perlu dikontrol dan diutamakan kualitasnya. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengujian kualitas air yang digunakan untuk hemodialisis. Parameter biologi dan kimia merupakan parameter yag perlu diperhatikan baku mutu nya pada air yang digunakan untuk hemodialisis. Khususnya untuk kontrol parameter kimia air pada air hemodialisis dapat dilakukan dengan menggunakan multimeter, ion selective electrode (ISE), dan kolorimeter atau spektrofotometer yang disesuaikan dengan parameter kimia yang akan diuji.
Hemodialisis atau cuci darah merupakan tindakan medis sebagai terapi pengganti fungsi ginjal yang tidak dapat bekerja dengan normal dengan menggunakan mesin cuci darah. Hemodialisis membantu mengontrol tekanan darah dan menyeimbangkan mineral penting, seperti kalium, natrium, dan kalsium, dalam darah. Untuk melakukan perawatan ini, prosesnya akan dibantu menggunakan mesin khusus untuk menggantikan ginjal yang rusak agar tubuh bisa menyaring darah. Mesin ini berperan sebagai ginjal artifisial (ginjal buatan) yang dapat menyingkirkan zat-zat kotor, garam, serta air berlebih yang ada di dalam darah. Dalam prosesnya, pembuluh darah pasien akan dimasukkan jarum oleh petugas medis. Tindakan ini bertujuan untuk menghubungkan aliran darah tubuh pasien ke mesin pencuci darah. Setelah itu, darah kotor akan disaring dalam mesin pencuci darah. Setelah proses penyaringan selesai, selanjutnya darah bersih akan dialirkan ke dalam tubuh pasien.
Dalam proses hemodialisis, air yang dibutuhkan adalah berupa air khusus. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 disebutkan bahwa air untuk pemakaian khusus adalah air yang dibutuhkan untuk kegiatan yang bersifat khusus di rumah sakit yang memerlukan persyaratan tertentu dan berbeda dengan air minum, seperti air untuk hemodialisis. Oleh karena itu, air yang digunakan perlu untuk mengontrol atau memastikan kualitasnya. Adapaun standar baku mutu air untuk hemodialisis meliputi parameter biologi dan kimia. Pada Tabel 1 di bawah ini merupakan rincian kadar maksimum parameter biologi untuk setiap jenis media yang dipakai untuk hemodialisis dengan satuan colony forming unit (CFU) per mililiter media atau CFU/ml yang mengacu pada American National Standards Institute (ANSI) dan Association for the Advancement of Medical Instrumentation (AAMI).
Tabel 1. Standar baku mutu kualitas biologi air untuk hemodialisis
|
No. |
Jenis Media |
Parameter |
ANSI/AAMI |
|
1. |
Air |
Angka kuman |
≤ 200 CFU/ml |
|
|
|
Angka endotoksin |
< 2 CFU/ml |
|
|
Ultrapure untuk flux tinggi |
Angka kuman |
< 0,1 CFU/ml |
|
|
|
Angka endotoksin |
< 0,03 CFU/ml |
|
2. |
Dialysate |
Angka kuman |
< 200 CFU/ml |
|
|
Ultrapure untuk flux tinggi |
Angka kuman |
< 0,1 CFU/ml |
|
|
|
Angka endotoksin |
< 0,03 CFU/ml |
Selain itu ditampilkan pada Tabel 2 di bawah ini adalah merupakan standar baku mutu kimia air untuk hemodialisis yang dinyatakan dalam kadar maksimum setiap parameter kimia dengan satuan milligram per liter (mg/l). Parameter-parameter kimia ini mengacu pada rujukan ANSI dan AAMI yang diatur dalam Permenkes RI Nomor 7 tahun 2019.
Tabel 2. Standar baku mutu kimia air untuk hemodialisis
|
No. |
Parameter |
Standar Baku Mutu Maksimum (mg/l) |
|
1. |
Kalsium |
2 |
|
2. |
Magnesium |
4 |
|
3. |
Sodium (garam) |
70 |
|
4. |
Kalium |
8 |
|
5. |
Fluoride |
0,2 |
|
6. |
Khlorida |
0,5 |
|
7. |
Khloramin |
0,1 |
|
8. |
Nitrat |
2,0 |
|
9. |
Sulfat |
100 |
|
10. |
Perak (copper) |
0,1 |
|
11. |
Barium |
0,005 - 0,1 |
|
12. |
Seng (zinc) |
0,1 |
|
13. |
Alumunium |
0,01 |
|
14. |
Arsen |
0,005 |
|
15. |
Timbal |
0,005 |
|
16. |
Kadmium |
0,001 |
|
17. |
Kromium |
0,014 |
|
18. |
Selenium |
0,09 |
|
19. |
Merkuri |
0,0002 |
Dalam hal mengontrol dan memastikan kualitas air yang digunakan dalam hemodialisis, dapat dilakukan dengan mengukur nilai maksimum parameter-parameter tersebut dengan cara melakukan uji kualitas yang merujuk pada standar baku mutu yang telah ditetapkan.
Pengujian kualitas air yang digunakan dalam hemodialisis ini dapat dilakukan dengan cara pengukuran menggunakan multimeter dan ion selective electrode (ISE) seperti yang ditunjukkan pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Multimeter dan ion selective electrode (ISE)
Penggunaan multimeter dan ISE perlu memerhatikan beberapa hal seperti, jumlah parameter yang akan dimonitoring, parameter apa saja yang akan dimonitoring; kalibarasi alat perlu dilakukan guna memastikan kinerja alat dan akurasi pengukuran parameter yang dilakukan; pembersihan dan maintenance multimeter dan ISE yang perlu dilakukan secara periodik atau mengikuti regulasi yang diacu.
Selain itu, parameter lainnya yang tidak dapat diukur dengan menggunakan multimeter dan ISE dapat diukur dengan menggunakan kolorimeter atau spektrofotometer. Parameter-parameter kimia lainnya dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan kolorimeter atau spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu. Contoh alat kolorimeter dan spektrofotometer dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.

Gambar 1. Contoh alat kolorimeter dan spektrofotometer
Dengan demikian penggunaan multimeter dan ISE parameter, kolorimeter atau spektrofotometer dapat mengoptimalkan pengontrolan baku mutu air untuk hemodialisis guna menjaga kualitas air yang digunakan agar sesuai dengan regulasi yang diacu.
Referensi:
ISO 3696, water for analytical laboratory use – specification and test methods
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 355 tahun 2015