| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364320 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Apakah uji lemak Anda masih terkendala? Tidak dapat dipungkiri, salah satu parameter dengan alur yang cukup panjang dan durasi yang cukup lama adalah uji lemak. Meskipun begitu, analis tetap wajib menentukan kadar lemak yang terkandung pada produk guna memperoleh izin edar berdasarkan Peraturan Kementerian Pertanian dan Peternakan Nomor 22/PERMENTAN/PK.110/6/2017. Hal ini juga disebutkan oleh Association of American Feed Control Officials (AAFCO) bahwa perusahaan wajib mencantumkan kandungan gizi pada pakan, apalagi jika produk tersebut mencantumkan klaim “rendah lemak” pada labelnya. Apa saja solusi yang dapat direkomendasikan untuk mengatasi kendala - kendala pada uji lemak? Mari simak Artikel ini.
Uji lemak dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode seperti metode ekstraksi - gravimetri dan ekstraksi - kromatografi. Umumnya metode ekstraksi gravimetri lebih dipilih karena biayanya yang relatif lebih murah. Biasanya ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode sokletasi berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor SNI 01-2891 Tahun 1992. Namun terdapat juga pilihan metode ekstraksi lainnya seperti metode Randall yang direkomendasikan oleh International Organizations of Standardization tepatnya pada ISO 11085.
Dalam penerapannya, metode ekstraksi - gravimetri diawali dengan melakukan preparasi terhadap sampel yang hendak dianalisis, yang mana hal ini termasuk penimbangan bobot. Pada metode sokletasi, sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kertas saring yang kemudian diikat dan digantung pada tabung soklet. Rangkaian kemudian dilengkapi dengan alat - alat penunjang lainnya seperti pendingin bola (condenser), hot plate/ heating mantle dan labu alas bulat yang berisikan pelarut. Vaselin pun dibutuhkan guna menjaga agar tidak ada kebocoran dalam rangkaian.


Setelah tahap ekstraksi, hasil ekstrak kemudian diletakkan pada Oven dan dipanaskan pada suhu 103 - 105oC untuk menguapkan pelarut. Dari proses pemanasan ini, diperoleh hasil ekstrak yang telah kering, yang dapat disimpan dalam desikator. Sebagai catatan, hindari menimbang hasil ekstrak ketika suhu masih tinggi karena selain bobotnya masih tidak stabil, hal ini juga dapat menyebabkan kerusakan pada load cell neraca analitik (analytical balance). Bobot yang telah stabil kemudian ditimbang menggunakan neraca analitik sehingga kadar lemak dapat dihitung dengan rumus berikut :

Setiap metode uji pasti memiliki tantangannya masing - masing sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perlakuan (treatment) yang diberikan dapat mempengaruhi efisiensi uji yang dilakukan atau bahkan hasil dari uji tersebut. Berikut beberapa kendala yang seringkali dialami beberapa Customer kami beserta dengan solusinya.
Kasus 1 : Bobot hasil ekstrak yang tidak stabil
Penjelasan : Bobot ekstrak yang tidak stabil disebabkan karena hasil ekstrak yang belum sepenuhnya kering. Komponen pelarut mungkin masih tertinggal dalam hasil ekstrak, atau justru hasil ekstrak yang terlalu lama terpapar di udara sehingga kadar air udara terserap dalam ekstrak dan mengakibatkan bobotnya tidak stabil.
Solusi :
Beberapa solusi berikut bisa dijadikan referensi, antara lain;
Memperpanjang durasi pengeringan hasil ekstrak di Alat Oven disertai dengan pengamatan.
Mengkaji ulang jarak ruang timbang pada Alat Oven dan desikator. Jarak yang terlalu jauh dapat meningkatkan probabilitas terpaparnya sampel oleh kadar air di udara yang dapat menyebabkan bobot tidak stabil.
Kasus 2 : Hasil ekstraksi yang kurang optimal
Penjelasan : Tahap ekstraksi adalah tahap paling esensial, karena pada tahap inilah semua komponen lipid dalam sampel diekstrak sedemikian rupa agar seluruhnya terlarut dalam pelarut (terekstrak). Jika tidak seluruh bagian lipid terekstrak, maka ini akan menjadi efek domino pada tahap akhir, yang menyebabkan hasil ekstraksi kurang optimal
Solusi : Mengkaji ulang durasi waktu ekstraksi. Optimasi durasi waktu ekstrasi ini ditujukan untuk mengetahui durasi paling optimal untuk mengekstrak seluruh komponen lipid dalam sampel.
Kasus 3 : Durasi waktu ekstraksi yang terlalu lama.
Penjelasan : Durasi waktu ekstraksi yang terlalu lama dapat dikarenakan oleh beberapa sebab, antara lain ;
Kadar air sampel yang terlalu tinggi
Ukuran sampel yang terlalu besar, sehingga menghambat proses ekstraksi akibat terhambatnya proses tumbukan molekul.
Kurang mendukungnya instrumen yang digunakan. Dalam hal ini mungkin rentang suhu instrumen telah bergeser sehingga kurang akurat maupun presisi. Akibatnya, suhu yang diaplikasikan pada pelarut tidak sesuai yang menjadikannya sangat lama untuk mendidih.
Metode ekstraksi yang dipilih. Lamanya durasi ekstraksi pasti akan bergantung pada metode yang dipilih.
Solusi :
Solusi dari setiap sebab tersebut dijabarkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Kendala lainnya dan Solusinya
| Sebab | Solusi |
| Kadar air sampel yang terlalu tinggi | Sampel dapat dikering anginkan terlebih dahulu (tanpa pemanasan) untuk mereduksi kadar air dalam air, sehingga proses ekstraksi lebih mudah dan optimal |
| Ukuran sampel yang terlalu besar | Sampel dapat digerus terlebih dahulu untuk memperbesar luas permukaan bidang tumbuk yang dapat memperbanyak interaksi sampel dengan pelarut sehingga proses ekstraksi dapat berlangsung lebih cepat |
| Kurang mendukungnya instrumen yang digunakan | Instrumen perlu diuji performanya dengan cara kalibrasi. Untuk beberapa instrumen dengan usia yang cukup lama, adjustment mungkin diperlukan guna mengarahkan sampel pada titik yang lebih valid sesuai dengan referensi sudah teruji. |
| Metode ekstraksi yang dipilih | Rata - rata waktu ekstraksi dengan metode sokletasi dapat menempuh durasi 6 - 8 jam*. Terkadang waktu ini dinilai terlalu lama untuk kebutuhan uji dengan batch yang relatif banyak. Sebagai alternatif, metode Randall dapat digunakan untuk mereduksi durasi. Karena menggunakan pelarut panas, durasi ekstraksi jauh lebih singkat, bahkan tidak lebih dari 2 jam. |
Kasus 4 : Perbedaan Tahap Penentuan Lemak Kasar dan Total Lemak
Penjelasan : Seperti yang telah dijabarkan pada paragraf diatas bahwa total lemak membutuhkan proses hidrolisis terlebih dahulu, sedangkan lemak kasar tidak. Proses hidrolisis ditujukan untuk mengubah ester lemak menjadi asam lemak dan gliserol yang nantinya dapat diekstrak lebih lanjut pada tahap ekstraksi.
Solusi :
Proses hidrolisis asam ataupun hidrolisis basa dibutuhkan untuk memisahkan komponen lemak dan bukan lemak. Proses ini akan memperbesar probabilitas terekstraksinya komponen lemak hasil hidrolisis pada saat tahap ekstraksi.
Referensi :
Association of American Feed Control Officials (AAFCO). 2023. Labelling & Labelling Requirements, https://www.aafco.org/resources/startups/labeling-labeling-requirements/ diakses pada Tanggal 17 April 2025 Pukul 09.32 WIB
International Organizations of Standardization. 2015. International Standard ISO 11085 : Cereals, cereals-based products and animal feeding stuffs — Determination of crude fat and total fat content by the Randall extraction method
Jia, Zheng dkk, 2023. Preparation and evaluation of certified reference materials for crude protein, crude fat, and crude ash in feed, Microchemical Journal, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0026265X23004721 diakses pada Tanggal 21 April 2025 Pukul 11.03 WIB
Menteri Pertanian Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/PERMENTAN/PK.110/6/2017 tentang Pendaftaran dan peredaran Pakan, https://ditjenpkh.pertanian.go.id/uploads/download/c2eab2c1ef8440ee639ec7ff4e0c401b.pdf diakses pada Tanggal 17 April 2025 Pukul 14.06 WIB
Velp Scientifica. 2025. Crude Fat and Total Fat Determination : Methods and Analysis, https://www.velp.com/en-ww/crude-fat-and-total-fat-determination-methods-and-analysis.aspx#:~:text=Crude%20Fat%20Determination,fat%20is%20dried%20and%20weighed. Diakses pada Tanggal 21 April 2025