Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364320{main}( ).../news-detail.php:0
Kendala Uji Lemak pada Produk Pakan dan Solusinya

Kendala Uji Lemak pada Produk Pakan dan Solusinya

Monday, 07 July 2025

Apakah uji lemak Anda masih terkendala? Tidak dapat dipungkiri, salah satu parameter dengan alur yang cukup panjang dan durasi yang cukup lama adalah uji lemak. Meskipun begitu, analis tetap wajib menentukan kadar lemak yang terkandung pada produk guna memperoleh izin edar berdasarkan Peraturan Kementerian Pertanian dan Peternakan Nomor 22/PERMENTAN/PK.110/6/2017. Hal ini juga disebutkan oleh Association of American Feed Control Officials (AAFCO) bahwa perusahaan wajib mencantumkan kandungan gizi pada pakan, apalagi jika produk tersebut mencantumkan klaim “rendah lemak” pada labelnya. Apa saja solusi yang dapat direkomendasikan untuk mengatasi kendala - kendala pada uji lemak? Mari simak Artikel ini. 

Pada sampel pakan, terdapat dua kategori parameter terkait lemak, yakni lemak kasar (crude fat) dan total lemak (total fat). Lemak kasar adalah adalah total keseluruhan lemak dan campuran lipid terlarut dalam pelarut organik seperti eter atau disebut juga sebagai lipida bebas. Lemak kasar juga seringkali disebut sebagai ekstrak eter (ether extract) karena komponennya yang mudah larut dalam pelarut eter. Hanya saja, pelarut eter atau yang dikenal sebagai dietil eter atau etil eter sudah lama dilarang untuk uji lemak karena beberapa pertimbangan terkait keselamatan dan kesehatan. Beberapa pelarut yang dapat dijadikan sebagai alternatif yakni n-heksana dan benzena. Disisi lain, total lemak adalah total keseluruhan lemak dalam bentuk ester yang hanya dapat diekstrak dengan melakukan proses hidrolisis terlebih dahulu.
 

Metode Uji Lemak

Uji lemak dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode seperti metode ekstraksi - gravimetri dan ekstraksi - kromatografi. Umumnya metode ekstraksi gravimetri lebih dipilih karena biayanya yang relatif lebih murah. Biasanya ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode sokletasi berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor SNI 01-2891 Tahun 1992. Namun terdapat juga pilihan metode ekstraksi lainnya seperti metode Randall yang direkomendasikan oleh International Organizations of Standardization tepatnya pada ISO 11085. 

Dalam penerapannya, metode ekstraksi - gravimetri diawali dengan melakukan preparasi terhadap sampel yang hendak dianalisis, yang mana hal ini termasuk penimbangan bobot. Pada metode sokletasi, sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kertas saring yang kemudian diikat dan digantung pada tabung soklet. Rangkaian kemudian dilengkapi dengan alat - alat penunjang lainnya seperti pendingin bola (condenser), hot plate/ heating mantle dan labu alas bulat yang berisikan pelarut. Vaselin pun dibutuhkan guna menjaga agar tidak ada kebocoran dalam rangkaian. 

Secara prinsip, ekstraksi pada metode sokletasi dilakukan dengan beberapa tahap. Tahapan tersebut antara lain pemurnian pelarut, perendaman sampel dan pencucian sampel. Pada tahap awal, pelarut akan dimurnikan dengan cara pemanasan, uap pelarut kemudian terkondensasi dan jatuh pada tabung soklet untuk merendam sampel dan mengekstrak lipid. Saat pelarut mencapai ketinggian tertentu, pelarut akan turun ke dalam labu alas bulat dan mengulang proses yang sama hingga seluruh lipid terekstrak dalam durasi tertentu.  Keseluruhan rangkaian dan proses ini diilustrasikan pada Gambar 1.
 
Gambar 1. Ilustrasi Ekstraksi dengan Metode Sokletasi
 
 
Berbeda dengan metode sokletasi, metode Randall menggunakan extraction thimble yang menunjang fungsi dari Instrumen Solvent Extractor. Metode ini tergolong lebih modern karena tidak memerlukan tahap perangkaian sistem. Bahkan terdapat Instrumen Solvent Extractor Otomatis yang dapat beroperasi secara mandiri sehingga lebih praktis dan fleksibel untuk para analis. Tahapannya terdiri dari perendaman (immersion) sampel pada pelarut panas, kemudian diikuti dengan tahap pengangkatan sampel. Setelah sampel terangkat, sampel akan dicuci dengan pelarut (washing) untuk memaksimalkan proses ekstraksi. Diakhir, pelarut yang digunakan akan dipulihkan oleh sistem pada tahap recovery yang dilanjutkan dengan tahap pendinginan (cooling) pada residu hasil ekstraksi. Bahkan, pelarut hasil recovery ini dapat digunakan kembali sebagai langkah konkret untuk mendukung program green industry. Tahapan metode Randall ini diilustrasikan pada Gambar 2.
 
Gambar 2. Tahapan pada Metode Randall (Khusus Tahap * Hanya ada pada SER158)
 
 

Setelah tahap ekstraksi, hasil ekstrak kemudian diletakkan pada Oven dan dipanaskan pada suhu 103 - 105oC untuk menguapkan pelarut. Dari proses pemanasan ini, diperoleh hasil ekstrak yang telah kering, yang dapat disimpan dalam desikator. Sebagai catatan, hindari menimbang hasil ekstrak ketika suhu masih tinggi karena selain bobotnya masih tidak stabil, hal ini juga dapat menyebabkan kerusakan pada load cell neraca analitik (analytical balance). Bobot yang telah stabil kemudian ditimbang menggunakan neraca analitik sehingga kadar lemak dapat dihitung dengan rumus berikut :

Keterangan :
W1 adalah bobot residu hasil ekstraksi dan bobot cawan, dinyatakan dalam gram (g);
W0 adalah bobot cawan kosong tanpa residu, sebagai kontrol, dinyatakan dalam gram (g);
W adalah bobot sampel yang digunakan untuk analisis, dinyatakan dalam gram (g).
 

Kendala pada Uji Lemak

Setiap metode uji pasti memiliki tantangannya masing - masing sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perlakuan (treatment) yang diberikan dapat mempengaruhi efisiensi uji yang dilakukan atau bahkan hasil dari uji tersebut. Berikut beberapa kendala yang seringkali dialami beberapa Customer kami beserta dengan solusinya.

Kasus 1 : Bobot hasil ekstrak yang tidak stabil

Penjelasan : Bobot ekstrak yang tidak stabil disebabkan karena hasil ekstrak yang belum sepenuhnya kering. Komponen pelarut mungkin masih tertinggal dalam hasil ekstrak, atau justru hasil ekstrak yang terlalu lama terpapar di udara sehingga kadar air udara terserap dalam ekstrak dan mengakibatkan bobotnya tidak stabil.

Solusi : 

Beberapa solusi berikut bisa dijadikan referensi, antara lain;

  1. Memperpanjang durasi pengeringan hasil ekstrak di Alat Oven disertai dengan pengamatan.

  2. Mengkaji ulang jarak ruang timbang pada Alat Oven dan desikator. Jarak yang terlalu jauh dapat meningkatkan probabilitas terpaparnya sampel oleh kadar air di udara yang dapat menyebabkan bobot tidak stabil. 

 

Kasus 2 : Hasil ekstraksi yang kurang optimal

Penjelasan : Tahap ekstraksi adalah tahap paling esensial, karena pada tahap inilah semua komponen lipid dalam sampel diekstrak sedemikian rupa agar seluruhnya terlarut dalam pelarut (terekstrak). Jika tidak seluruh bagian lipid terekstrak, maka ini akan menjadi efek domino pada tahap akhir, yang menyebabkan hasil ekstraksi kurang optimal

Solusi : Mengkaji ulang durasi waktu ekstraksi. Optimasi durasi waktu ekstrasi ini ditujukan untuk mengetahui durasi paling optimal untuk mengekstrak seluruh komponen lipid dalam sampel. 

 

Kasus 3 : Durasi waktu ekstraksi yang terlalu lama.

Penjelasan : Durasi waktu ekstraksi yang terlalu lama dapat dikarenakan oleh beberapa sebab, antara lain ;

  1. Kadar air sampel yang terlalu tinggi

  2. Ukuran sampel yang terlalu besar, sehingga menghambat proses ekstraksi akibat terhambatnya proses tumbukan molekul.

  3. Kurang mendukungnya instrumen yang digunakan. Dalam hal ini mungkin rentang suhu instrumen telah bergeser sehingga kurang akurat maupun presisi. Akibatnya, suhu yang diaplikasikan pada pelarut tidak sesuai yang menjadikannya sangat lama untuk mendidih. 

  4. Metode ekstraksi yang dipilih. Lamanya durasi ekstraksi pasti akan bergantung pada metode yang dipilih.

 

Solusi : 

Solusi dari setiap sebab tersebut dijabarkan dalam Tabel 1. 

Tabel 1. Kendala lainnya dan Solusinya

Sebab Solusi
Kadar air sampel yang terlalu tinggi Sampel dapat dikering anginkan terlebih dahulu (tanpa pemanasan) untuk mereduksi kadar air dalam air, sehingga proses ekstraksi lebih mudah dan optimal
Ukuran sampel yang terlalu besar Sampel dapat digerus terlebih dahulu untuk memperbesar luas permukaan bidang tumbuk yang dapat memperbanyak interaksi sampel dengan pelarut sehingga proses ekstraksi dapat berlangsung lebih cepat
Kurang mendukungnya instrumen yang digunakan Instrumen perlu diuji performanya dengan cara kalibrasi. Untuk beberapa instrumen dengan usia yang cukup lama, adjustment mungkin diperlukan guna mengarahkan sampel pada titik yang lebih valid sesuai dengan referensi sudah teruji.
Metode ekstraksi yang dipilih Rata - rata waktu ekstraksi dengan metode sokletasi dapat menempuh durasi 6 - 8 jam*. Terkadang waktu ini dinilai terlalu lama untuk kebutuhan uji dengan batch yang relatif banyak. Sebagai alternatif, metode Randall dapat digunakan untuk mereduksi durasi. Karena menggunakan pelarut panas, durasi ekstraksi jauh lebih singkat, bahkan tidak lebih dari 2 jam.

 

Kasus 4 : Perbedaan Tahap Penentuan Lemak Kasar dan Total Lemak

Penjelasan : Seperti yang telah dijabarkan pada paragraf diatas bahwa total lemak membutuhkan proses hidrolisis terlebih dahulu, sedangkan lemak kasar tidak. Proses hidrolisis ditujukan untuk mengubah ester lemak menjadi asam lemak dan gliserol yang nantinya dapat diekstrak lebih lanjut pada tahap ekstraksi.

Solusi : 

Proses hidrolisis asam ataupun hidrolisis basa dibutuhkan untuk memisahkan komponen lemak dan bukan lemak. Proses ini akan memperbesar probabilitas terekstraksinya komponen lemak hasil hidrolisis pada saat tahap ekstraksi. 

 
Dari materi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan terdapat langkah strategis yang dapat mencegah maupun mengatasi kendala yang mungkin terjadi pada analisis lemak. Solusi - solusi yang telah dijelaskan diatas diharapkan menjadi gambaran bagi para analis kedepannya dalam analisis lemak. Dari kendala yang telah disebutkan, apakah ada yang pernah Anda alami?
 

Referensi : 

Association of American Feed Control Officials (AAFCO). 2023. Labelling & Labelling Requirements, https://www.aafco.org/resources/startups/labeling-labeling-requirements/ diakses pada Tanggal 17 April 2025 Pukul 09.32 WIB

International Organizations of Standardization. 2015. International Standard ISO 11085 : Cereals, cereals-based products and animal feeding stuffs — Determination of crude fat and total fat content by the Randall extraction method

Jia, Zheng dkk, 2023. Preparation and evaluation of certified reference materials for crude protein, crude fat, and crude ash in feed, Microchemical Journal, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0026265X23004721 diakses pada Tanggal 21 April 2025 Pukul 11.03 WIB

Menteri Pertanian Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/PERMENTAN/PK.110/6/2017 tentang Pendaftaran dan peredaran Pakan, https://ditjenpkh.pertanian.go.id/uploads/download/c2eab2c1ef8440ee639ec7ff4e0c401b.pdf diakses pada Tanggal 17 April 2025 Pukul 14.06 WIB

Velp Scientifica. 2025. Crude Fat and Total Fat Determination : Methods and Analysishttps://www.velp.com/en-ww/crude-fat-and-total-fat-determination-methods-and-analysis.aspx#:~:text=Crude%20Fat%20Determination,fat%20is%20dried%20and%20weighed. Diakses pada Tanggal 21 April 2025

Previous Article

PENENTUAN PROTEIN DALAM PRODUK DAIRY

Monday, 30 June 2025
VIEW DETAILS

Next Article

Penentuan Total Vibrio spp. dalam Media Budidaya Ikan – Metode Tuang Sebar

Thursday, 17 July 2025
VIEW DETAILS