Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001363952{main}( ).../news-detail.php:0
Kadar Abu pada Kertas

Kadar Abu pada Kertas

Tuesday, 13 April 2021

Kadar Abu adalah parameter penentu kualitas suatu olahan, tidak terkecuali produk kertas. Hal ini tercantum dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 4889 tahun 2008 dan tahun 2009 dan juga dalam Technical Association of Pulp and Paper Industry (TAPPI) nomor T211-om-02. Pengujian Abu pada kertas ditujukan untuk menguji beberapa residu kimia yang digunakan selama proses manufaktur berlangsung, residu logam dari pipa dan mesin proses, mineral yang terkandung dalam kertas, dan material tambahan pada saat proses pengisian (filling), pelapisan (coating), dan pemberian pigmen (pigmenting). Pengujian kadar abu umumnya dilakukan secara termogravimetri (thermogravimetry) dengan menggunakan beberapa alat seperti oven, furnace, neraca analitik (analytical balance) dan desikator.

Abu adalah hasil proses pembakaran suatu material pada suhu tinggi yakni pada suhu 500°C atau lebih (> 500° C). Prinsip pengujian abu sederhana yaitu dengan menimbang dan memasukkan sampel dalam cawan anti panas yang kemudian dipanaskan pada suhu 525 ± 25 °C selama 3 jam dalam furnace. Kadar abu ini kemudian ditentukan dengan membandingkan berat abu terhadap berat kering sampel uji dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


 

dengan pengertian :

D adalah kadar abu, dinyatakan dalam persen (%);

C adalah berat cawan dan abu, dinyatakan dalam gram (g);

A adalah berat cawan kosong, dinyatakan dalam gram (g);

B adalah berat kering sampel uji, dinyatakan dalam gram (g).

 

Adapun rangkaian proses pengujian ini ditunjukkan pada Gambar 1. 

Gambar 1. Alur Pengujian Kadar Abu secara Termogravimetri

 

Secara umum dalam pengujian kadar abu terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Sampel haruslah kering terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam cawan sehingga sampel harus dikeringkan terlebih dahulu dengan mengeringkannya dalam oven.

  2. Sampel juga harus diperluas permukaannya dengan membuat ukuran sampel menjadi lebih kecil, hal ini akan memudahkan proses pembakaran sampel.

  3. Warna silika dalam desikator, jika silika dalam desikator telah berubah menjadi pink, ganti silika dengan silika yang baru atau panaskan silika dalam oven.

  4. Pemilihan alat seperti neraca analitik dan furnace juga berpengaruh dalam pengujian yang dilakukan, dalam hal ini mencakup akurasi, kapasitas minimum, jenis sensor dan filamen alat serta jenis desikator yang dipilih. Beberapa kriteria ini ditunjukkan pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Kriteria dan Tips dalam Pemilihan Alat

Alat

Yang harus diperhatikan

Tips

Neraca

  • Akurasi Alat

  • Pilihlah Neraca tipe neraca analitik yang dapat mendeteksi 0.001 gram atau 0.0001 gram atau sesuai dengan kebutuhan.

  • Kapasitas minimum dan maksimum dalam alat

Furnace

  • Untuk uji kadar abu skala laboratorium muffle furnace sangat direkomendasikan.

  • Jumlah filamen pemanas

  • Pilihlah furnace yang setidaknya memiliki 2 elemen pemanas, yakni yang terletak di samping kanan dan kiri.

  • Pilih range suhu dengan daya listrik furnace yang memadai, meski muffle furnace sangat direkomendasikan untuk skala laboratorium, namun pemilihan suhu yang digunakan untuk analisa tetaplah harus diestimasikan dengan daya yang dimumpuni.

  • Tipe sensor suhu

  • Pilih furnace dengan tipe sensor minimal adalah Pt100.

  • Display dan fitur

  • Pilihlah furnace dengan display digit angka yang dilengkapi dengan fitur program yang mudah untuk dioperasikan.

Desikator

  • Terdapat 2 opsi untuk desikator dengan vakum dan non-vacuum

  • Pilihlah desikator yang sesuai dengan kebutuhan, penggunaan vakum dapat mempercepat proses pendinginan.

Alat tambahan lainnya

Alat

Yang harus diperhatikan

Tips

Oven

  • Letak  filamen dalam chamber

  • Sensor suhu 

  • Pilihlah oven yang menggunakan filamen seperti selimut sehingga pemanasan lebih merata.

  • Pilihlah oven dengan sensor suhu minimal Pt100 sehingga pembacaan lebih akurat.

 

Pada Tabel 1 telah dijelaskan bahwa muffle furnace dapat dijadikan sebagai referensi alat untuk pengujian kadar Abu. Prinsip kerja muffle furnace didasarkan pada energi listrik yang diubah menjadi energi panas, dimana pemanasan berlangsung melalui filamen pemanas, kemudian terjadi proses konveksi dari heater melalui ceramic fiber insulation hingga ke sampel sehingga sampel berubah menjadi abu. Dalam sistem ceramic fiber insulation ini dibuat dengan ketebalan tertentu agar terciptanya sistem terisolasi sehingga panas yang terhasilkan tidak keluar dari sistem. Sensor yang ada pada alat kemudian akan mendeteksi suhu yang ada pada chamber dan mengirimkan sinyal untuk menunjukkan suhu aktual pada display alat. Contoh tampilan alat muffle furnace ditunjukkan pada Gambar 2.

 

Gambar 2. Alat Muffle Furnace

 

 

 

Referensi :

Badan Standardisasi Nasional. 2009. Standar Nasional Indonesia Nomor 0442 “Kertas, Karton, Pulp – Cara Uji Kadar Abu pada 525 °C.”

Technical Association of Pulp and Paper Industry. TAPPI Nomor T211-om-02 “Ash in Wood, Pulp, Paper, and Paperboard : Combustion at 525 °C.”

 

Previous Article

PENENTUAN KADAR FENOL DALAM AIR LIMBAH

Tuesday, 06 April 2021
VIEW DETAILS

Next Article

Klorinasi dalam Air Minum

Tuesday, 20 April 2021
VIEW DETAILS