Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001363984{main}( ).../news-detail.php:0
Faktor Penting pada Uji pH

Faktor Penting pada Uji pH

Monday, 29 May 2023

Apa pengaruh pH pada produk air minum? Menurut World Health Organizations (WHO), pH pada air minum memang tidak memberi dampak secara langsung pada kesehatan manusia, namun nilainya akan memberi dampak yang serius terhadap optimalitas proses dari produk air minum. Sebagai contoh, tingkat efisiensi proses desinfeksi yang menggunakan klorin bergantung pada kondisi pH, jika nilai pH tidak sesuai maka proses tidak akan berlangsung secara optimal sehingga air kemungkinan masih mengandung mikroorganisme patogen. Namun, apakah Anda yakin uji pH yang dilakukan sudah tepat? Adakah faktor - faktor yang dapat mempengaruhi tingkat akurasinya? Artikel ini akan menjelaskan beberapa faktor penting dalam uji pH serta cara solutif yang dapat ditempuh agar uji pH yang dilakukan memiliki presisi dan akurasi yang tinggi. 

pH merupakan derajat keasaman yang dapat menentukan sifat dan karakteristik maupun kualitas dari suatu sampel. Menurut WHO, pemantauan nilai pH harus selalu dilakukan pada seluruh proses pengolahan air untuk air minum, yang mana hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan dan mengoptimalkan proses yang terjadi pada tahap klarifikasi air (clarification water) dan desinfeksi (disinfection). Dalam hal ini WHO juga menyebutkan bahwa secara umum nilai pH optimum untuk air minum yaitu berkisar 6.5 - 8.5. Namun, beberapa produk mungkin memiliki pH yang lebih tinggi bahkan hingga skala 9.5.

Selain untuk mengoptimalkan proses, pemantauan pH pada instalasi pengolahan air juga berfungsi untuk mencegah adanya korosi yang timbul akibat reaksi oksidasi dari lapisan pipa.  Reaksi ini dapat terjadi jika pH air berada dibawah nilai 6.5, sedangkan jika nilai nilai pH berada nilai yang cenderung basa (pH diatas 8.5) maka hal ini akan berpengaruh pada rasa dari air minum yang diproduksi. Disisi lain, tingkat alkalinitas dan kesadahan yang tinggi juga dapat menyebabkan karat yang dapat mengakibatkan kebocoran pada pipa. Disamping itu, pH air yang terlalu tinggi akan berdampak pada tampilan fisik air yang berkaitan dengan warna, bau, dan tingkat kekeruhan.

 

Pemantauan Nilai pH

Disebutkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 3553 Tahun 2015 bahwa parameter pH merupakan parameter wajib ukur untuk sampel Air mineral ataupun pada air minum pH tinggi yang tertera pada SNI 8982 Tahun 2021. Disebutkan dalam beberapa standar seperti SNI Nomor 3554 Tahun 2015, SNI 06-6989 bagian 11 Tahun 2004 serta APHA (American Public Health Association) Nomor 4500-H bahwa pengukuran pH dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen pH meter yang terdiri dari meter dan elektroda. Pemantauan nilai pH ini pun dapat dilakukan secara kontinu ataupun dengan pengujian laboratorium. Hal ini tentunya bergantung pada kebutuhan pemantauan yang dilakukan.
 
Untuk memantau proses, tentunya pengujian pH secara aktual (real time) dan kontinu pun dibutuhkan. Bahkan untuk beberapa industri, penggunaan sensor pH online yang dilengkapi dengan controller yang dapat dikoneksikan dengan pompa dosis otomatis (automatic dosing pump) sudah menjadi keharusan agar proses lebih efisien dan praktis. Namun, biasanya uji pH secara laboratorium pun tetap dibutuhkan untuk verifikasi, sinkronisasi ataupun validasi hasil dari uji pH. Meski pH meter online dan pH meter laboratorium terlihat berbeda, namun keduanya memiliki prinsip kerja yang hampir sama. Hanya saja, beberapa sensor pH online mungkin mengalami modifikasi tertentu dalam segi strukturnya untuk menunjang aplikasinya.
 
Gambar 1. Tampilan Alat pH meter :  a) Online b) Portable dan c) Benchtop

Secara prinsip, nilai pH yang terukur merupakan hasil interaksi antara ion hidrogen (H+) yang ada pada sampel dan ion hidrogen yang terdapat pada bagian balb elektroda. Interaksi ini akan menghasilkan potensial arus yang akan dibaca oleh elektroda uji dan dibandingkan nilainya dengan potensial yang ada pada elektroda referensi sehingga nilai pH akan muncul pada display alat. Semakin banyak interaksi yang terjadi maka semakin besar beda potensial yang dihasilkan yang menyebabkan nilai pH akan semakin kecil.

Gambar 2. Bagian - Bagian Elektroda

 

Faktor pada Uji pH dan Solusinya

Kualitas suatu pengujian dapat dilihat dari tingkat presisi dan akurasi hasil dari uji yang dilakukan. Dalam pengujian pH, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akurasi dan presisi pengukuran yang dilakukan, yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Suhu

Suhu merupakan parameter kritis pada hampir setiap reaksi kimia yang terjadi. Hal ini karena pergerakan partikel akan semakin cepat seiring dengan meningkatnya suhu. Pada pengukuran pH ataupun ion selektif lainnya (ion selective measurement), pergerakan partikel yang semakin cepat menyebabkan perbedaan potensial yang dihasilkan dari tiap keadaan suhu yang berbeda. Hal ini pun dapat berdampak negatif bagi hasil kalibrasi, verifikasi bahkan hasil dari pengukuran sampel. Hal ini pun dijelaskan secara teori dalam hukum Nernst yang menyatakan keterkaitan suhu terhadap potensial yang terukur oleh suatu elektroda.

Secara umum, analis perlu melakukan pembacaan larutan standar buffer pH tertentu untuk mengkalibrasi instrumen yang digunakan. Namun jika terjadi perubahan suhu yang tidak terpantau oleh alat, maka hasil pembacaan buffer mungkin tidak akurat sehingga berimbas pada nilai slope kalibrasi alat. Hal ini tentunya memunculkan efek domino yang akan berlanjut pada hasil pengukuran sampel yang mengalami pergeseran dan menjadi tidak akurat. Efek domino ini tentunya tidak lepas dari proses kesetimbangan termal yang terjadi dalam sistem, yakni dengan melibatkan elemen internal elektroda dan elektroda referensi.

Gambar 3. Hubungan Parameter pH dan Suhu 
 
Solusi :
Penggunaan alat pengukur suhu dapat membantu meter untuk melakukan kalkulasi otomatis terhadap nilai pH yang terukur. Dalam hal ini, penggunaan probe suhu yang berdampingan dengan elektroda pH dapat dijadikan sebagai solusi. Namun penggunaan elektroda pH dan meter yang disertai dengan fitur ATC (Automatic Temperature Compensation) mungkin akan jauh lebih membantu.
 

2. Tempat Peletakan atau Penggunaan Alat

Meletakkan dan bekerja dengan alat pH meter dalam suatu ruangan yang memiliki tekanan tinggi dapat beresiko pada ketahanan elektroda referensi, apalagi jika elektroda yang digunakan terbuat dari material kaca yang tidak dilengkapi dengan fitur khusus. 

Solusi:

Gunakan Alat dan elektroda yang memiliki fitur khusus dan bertanda EX.

3. Penyimpanan Elektroda

Penyimpanan dan perawatan elektroda yang tidak tepat dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat ataupun presisi, Merendam elektroda pH terlalu lama dalam air deionisasi, air destilasi atau air demineralisasi dapat menyebabkan proses difusi pada elektroda sehingga cairan elektrolit menjadi keruh dimana hal ini akan menghambat kerja junction yang terblokade oleh partikel - partikel sehingga elektroda tidak bekerja secara optimal. Membiarkan balb elektroda dalam kurun waktu yang lama pun tidak dibenarkan, karena hal ini dapat menyebabkan bagian balb mengalami dehidrasi sehingga jumlah ion hidrogen yang menempel pada balb elektroda berkurang. 

Solusi:

Simpan elektroda dengan merendam bagian balb dalam larutan penyimpan. Biasanya, larutan KCl 3 M digunakan agar elektroda tetap terhidrasi secara optimal, namun analis dapat menggunakan cairan penyimpan khusus yang direkomendasikan oleh vendor terkait. 

 
4. Perawatan Elektroda
 
Seiring berjalannya waktu, larutan elektrolit dalam chamber akan berkurang ketinggiannya sehingga warna larutan elektrolit yang berada pada chamber elektroda akan berubah. Perubahan warna ini dimungkinkan karena kontaminasi secara perlahan yang terjadi akibat proses difusi. Selain itu pembersihan yang kurang tepat dapat meninggalkan residu pada badan atau balb elektroda yang dapat mengkontaminasi pengujian yang dilakukan. 
 
Solusi:
 
Untuk aplikasi tertentu, lebih disarankan untuk menggunakan elektroda dengan tipe elektrolit cairan (tipe elektroda refillable) dan selalu mengganti cairan elektrolit secara berkala dengan mengisi cairan elektrolit pada chamber hingga +/- 0.5 cm dibawah lubang pengisian. 
 
 
5.  Hasil Kalibrasi dan Kualitas Larutan Buffer pH 

Seperti yang telah dijelaskan pada faktor suhu, hasil kalibrasi memainkan peran penting dalam pembacaan sampel pada meter. Namun dalam hal ini, analis perlu mengetahui jenis larutan standar buffer yang perlu digunakan. Kualitas larutan buffer dapat menurun seiring berjalannya waktu, tidak mengganti larutan buffer pada saat kalibrasi dilakukan dapat menyebabkan pergeseran slope yang lebih lanjutnya dapat mengakibatkan tidak akuratnya nilai pengukuran pH.

Solusi:

Simpan larutan standar buffer pada kondisi yang sesuai dengan label penyimpanan pada kemasan. Selalu ganti larutan standar buffer secara berkala, yakni sesuai dengan kebutuhan. 

 

6.  Tipe Alat yang digunakan

Tentunya setiap tipe pH meter memiliki fungsi dan aplikasinya masing - masing, Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan elektroda dan tipe meter yang sesuai dengan kebutuhan. 

Solusi:

Sebagai contoh pada aplikasi sampel air RO (reverse osmosis), air baku, air bersih dan air minum, disarankan untuk memilih elektroda tipe refillable dengan tipe junction berupa glass fiberopen junction ataupun sure-flow. Jika hendak menggunakan alat pH meter online, maka analis perlu mempertimbangkan tipe controller dan sensor pH online yang tepat dengan memberikan informasi berupa tipe sampel, range nilai pH sampel, suhu sampel, kecepatan alir (flow rate) sampel dan posisi penempatan sampel pada vendor terkait. Disisi lain, pemilihan alat akan berhubungan langsung dengan jumlah sampel yang perlu digunakan dimana analis harus memastikan bahwa junction elektroda terendam dengan baik saat proses pengukuran berlangsung. 

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor kritis yang dapat mempengaruhi uji pH antara lain adalah suhu, tempat peletakan dan penggunaan alat, cara penyimpanan dan perawatan elektroda, hasil kalibrasi dan kualitas larutan buffer, serta tipe alat yang digunakan. Dengan memaksimalkan fungsi elektroda dan faktor pengaruhnya, dipastikan bahwa nilai pH yang terukur akan lebih akurat dan lebih presisi.

 

Referensi 

American Public Health Association. 2017. Standard Methods For The Examinations of Water and Wastewater 4500-H+ pH

https://www.standardmethods.org/doi/abs/10.2105/SMWW.2882.082 diakses pada Tanggal 24 Mei 2023

Badan Standardisasi Nasional. 2021. Standar Nasional Indonesia Nomor 8982 tentang “Air Minum pH Tinggi”

Badan Standardisasi Nasional. 2015. Standar Nasional Indonesia Nomor 3553 tentang “Air Mineral”

Badan Standardisasi Nasional. 2015. Standar Nasional Indonesia Nomor 3554 tentang “Cara Uji Air Minum Dalam Kemasan”

Badan Standardisasi Nasional. 2004. Standar Nasional Indonesia Nomor 06-6989 tentang “Air dan Air Limbah Bagian 11 : Cara Uji Derajat Keasaman (pH) dengan menggunakan Alat pH meter”

Bier, Dr. Axel. 2018. Electrochemistry - Theory and Practice. Hach Company

Thermo Scientific Company. 2013. pH Electrode Selection Handbook. Thermo Scientific Company

World Health Organization. 2007. WHO/SDE/WSH/07.01/1 : pH of Drinking Water (Revised background document for development of WHO Guidelines for Drinking-water Quality), https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/wash-chemicals/ph.pdf?sfvrsn=16b10656_4 diakses pada Tanggal 24 Mei 2023

Previous Article

Monitoring pH White Water dalam Industri Pulp dan Kertas

Wednesday, 24 May 2023
VIEW DETAILS

Next Article

Alat Ukur Air Limbah

Tuesday, 30 May 2023
VIEW DETAILS