| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364352 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Apa yang terjadi jika kadar air pada zat pewarna yang digunakan melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan? Menurut studi yang dilakukan oleh Permatasari dan F. Sari (2022), kadar air pada produk pewarna (dye product) mempengaruhi tingkat kestabilan warna yang dihasilkan. Salah satu penyebab utama meningkatnya kadar air pada produk pewarna adalah durasi penyimpanan, dimana semakin lama durasi penyimpanan maka kadar air pada produk dye akan semakin meningkat. Selain itu, kadar air akan mempengaruhi zat warna yang terkandung pada dye products dimana semakin meningkatnya kadar air dapat menyebabkan warna pada zat pewarna memudar.
Zat warna digunakan pada banyak aplikasi, seperti cat, tinta, kertas, kosmetik, produk tekstil, produk makanan, produk farmasi, fotografi, polimer, serta berbagai aplikasinya, Dari aplikasinya, produk pewarna (dye products) memiliki tumpang tindih dengan produk pigmen pewarna. Meskipun begitu, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok baik dari segi makroskopik maupun mikroskopik yang dicirikan dengan sifat ikatan (binding) antara zat terhadap substrat. Dikutip dari Buku “Structure and Properties of Dyes and Pigments” karya Kumar, dkk. (2021), zat pewarna (dye) tergolong dalam grup senyawa organik yang memiliki gugus kromofor dan gugus asam ataupun basa yang termodifikasi seperti -OH, -SO3H, -NH2, -NR2 dan lainnya. Di sisi lain, beberapa zat pigmen dapat digolongkan dalam grup organik dan juga anorganik. Meskipun begitu, keduanya memiliki pasangan elektron bebas yang memungkinkan keduanya untuk berikatan dengan substrat tertentu ketika diaplikasikan.
Dalam studi yang dilakukan oleh Daud, dkk (2019), disebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akurasi penentuan kadar air dengan metode thermogravimetri. Faktor - faktor ini antara lain yaitu suhu dan kelembaban ruang laboratorium ataupun ruang kerja tempat dilaksanakannya uji, suhu dan tekanan udara pada chamber analisa, ukuran dan struktur partikel serta ukuran wadah/ botol timbang yang digunakan. Dalam hal ini, analis perlu untuk memperkecil ukuran sampel untuk memperbesar luas permukaan yang dapat dijangkau oleh udara panas sehingga hasil uji lebih optimal.
Pengujian kadar air dapat dilakukan dengan berbagai metode. Tiga metode yang umumnya digunakan yakni metode thermogravimetri (thermogravimetry), metode destilasi dan metode fisis dan kimiawi. Metode fisis dan kimiawi dilakukan dengan cara titrasi Karl Fischer, sedangkan cara destilasi dilakukan dengan cara mengukur air yang teruapkan pada sampel menggunakan pelarut immiscible yang memiliki titik didih lebih rendah dari air. Metode thermogravimetri didasarkan pada prinsip perbandingan bobot antara sebelum dan sesudah pemanasan dimana bobot yang hilang dinyatakan sebagai persentase kadar air pada sampel. Penentuan kadar air dengan metode thermogravimetri pun dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni dengan menggunakan oven atau dengan menggunakan alat moisture analyzer, yang secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:
Untuk menentukan kadar air dengan cara ini, dibutuhkan alat oven, desikator (desiccator) dan neraca analitik (analytical balance). Cara ini dilakukan dengan menimbang bobot sampel pada neraca analitik dan memanaskannya pada alat oven dengan suhu target yang telah ditetapkan selama kurun waktu tertentu. Setelah proses pemanasan, sampel kemudian didinginkan didalam desikator dan ditimbang bobotnya ketika suhunya telah mencapai suhu ruang. Nilai kadar air kemudian dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

dengan,
W1 adalah bobot wadah dengan sampel sebelum pemanasan (gram),
W2 adalah bobot wadah dan sampel setelah pemanasan (gram);
W0 adalah bobot wadah kosong/ tanpa sampel (gram)


Baik penggunaan oven ataupun alat moisture analyzer, keduanya merupakan opsi untuk mengetahui kadar air yang terkandung pada sampel, meskipun suhu dan waktu yang digunakan untuk masing - masing cara tentu berbeda, Namun, bagaimana prinsip kerja dari masing - masing alat? Hal ini tentunya sangat berguna bagi analis yang bersangkutan, karena dengan mengetahui prinsip kerja dari alat yang digunakan, maka analis akan lebih memahami treatment (perlakuan) yang diperlukan selama analisa berlangsung.
A. Alat Oven
Oven merupakan alat pemanas yang berfungsi untuk memanaskan atau mengeringkan sampel dengan menguapkan kadar air yang terkandung didalamnya. Terdapat berbagai jenis oven, namun tipe yang umum digunakan untuk uji kadar air adalah natural air, forced air, serta tipe vakum (vacuum oven). Oven dengan udara natural (natural air) menggunakan dan mengolah udara ambien menjadi udara panas di dalam chamber dengan adanya preheating chamber dan sirkulasi udara panas di dalam chamber mengalir secara natural. Berbeda dengan tipe natural air, oven tipe forced air memiliki kipas (fan) yang dapat mendistribusikan serta membantu sirkulasi udara panas dalam chamber analisa. Di lain sisi, vacuum oven memiliki cara kerja yang berbeda, yakni dengan mengkondisikan tekanan pada chamber analisa sehingga kadar air dapat dihilangkan dari sampel pada suhu yang cukup rendah.

Gambar 3. Alat Oven : a) Sistem Alat Oven dan b) Pola Distribusi dan Sistem Alat Oven
Gambar 3 adalah sistem dari salah satu jenis oven yang cara kerjanya dimulai dengan mengambil udara ambien dari lingkungan. Udara ambien ini kemudian dipanaskan pada preheating chamber sehingga menghasilkan panas intermediate yang kemudian didistribusikan ke dalam chamber melalui lubang preheating chamber. Oleh sebab itu, penataan sampel pada rak oven harus sesuai dengan yang direkomendasikan oleh vendor terkait. Penataan sampel yang tidak sempurna menyebabkan udara panas tidak terdistribusi secara merata dan dapat mengakibatkan hasil uji yang tidak akurat.

Gambar 4. Tata letak sampel yang baik pada Alat Oven

Dari Penjabaran diatas dapat dikatakan bahwa terdapat beberapa opsi cara maupun alat yang dapat digunakan untuk uji kadar air. Opsi - opsi tersebut mungkin dapat dijadikan referensi ataupun alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk kedepannya.
Anonim. 2020. Pigments vs Dyes : What is the Difference? , https://thebluebottletree.com/pigments-vs-dyes-difference/ diakses pada Tanggal 2 Mei 2023
Daud, Ahmad., dkk. 2019. Kajian Penerapan Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Penentuan Kadar Air Metode Thermogravimetri, Lutjanus, https://ppnp.e-journal.id/lutjanus_PPNP/article/view/79/36 diakses pada Tanggal 2 Mei 2023
Kumar, Ashok., dkk. 2021. Structure and Properties of Dyes and Pigments, https://www.intechopen.com/chapters/76561 diakses pada Tanggal 2 Mei 2023
Masilungan, Joana Tess dan Manuel. 2017. Moisture Content and Glass Transition Temperature of the Spray Dried Natural Dye: Talisay (Terminalia Catappa) leaves and Mahogany (Swietenia macrophylla) Bark, International Conference on Advances in Science, Engineering and Technology (ICASET-17)
Permatasari, N A dan F Sari. 2022. Quality changes of natural dye powder from red leaf amaranth (Alternanthera amoena Voss) during storage, IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 1063 012005
Kern & Sohn. 2017. Instruction manual of DBS Moisture Analyzer, www.kern-sohn.com diakses pada Tanggal 3 Mei 2023